Siapkah Kita Membuka Sekolah Tatap Muka?

Oleh: Apriliani Kusumawati & Evi Baiturohmah*

Pecah rekor lagi!

Sebulan sebelum pembelajaran tatap muka yang dianjurkan pemerintah resmi dimulai, kasus COVID-19 di Indonesia kembali meroket. Bahkan, memecahkan rekor kasus tertinggi selama pandemi.

Parahnya, anak-anak yang sempat digolongkan sebagai kelompok dengan risiko lebih rendah, kini menjadi kelompok dengan kerentanan yang mengkhawatirkan. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per 20 Juni 2021, sebanyak 12,5% dari kasus positif di Indonesia adalah anak (usia 0-18 tahun). Sebanyak 3-5% di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah anak yang meninggal, 50% dari mereka adalah balita. Aman Pulungan sebagai Ketua IDAI menyatakan persentase kematian anak Indonesia akibat COVID-19 adalah yang tertinggi di dunia!

Data ini semakin meresahkan orang tua dan pihak-pihak yang peduli terhadap isu anak. Bagaimana tidak? Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, Pemerintah telah mengizinkan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) pada tahun ajaran baru, Juli 2021. 

Orang tua dan tenaga pendidik memang semula berharap anak bisa segera kembali ke sekolah setelah melihat tren penurunan kasus COVID-19 pada awal 2021. Kini, hampir semua pihak merasa gamang melihat situasi pandemi yang kian genting tiap harinya. 

Kebelet kembali ke sekolah

Banyak yang bertanya mengapa Pemerintah terkesan kebelet membuka sekolah dan melangsungkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM)? Apakah tidak takut jika anak-anak akan terinfeksi COVID-19 di sekolah? 

Penting diketahui, pemerintah mengizinkan PTM dilaksanakan dengan pengaturan yang ketat. Pemerintah sekaligus memberi keleluasaan bagi pemerintah daerah (Pemda) dan orang tua terkait pelaksanaan PTM ini. Pemda berhak menerapkan regulasi terkait PTM untuk satuan pendidikan di wilayah administrasi mereka. Di sisi lain, orang tua juga diberi kebebasan sepenuhnya untuk memilih jenis pembelajaran terbaik untuk anak mereka, sehingga anak juga berhak untuk tidak mengikuti PTM di sekolah.

Keputusan pemerintah bukan tanpa pertimbangan yang matang. Tempo merilis data bahwa pada November 2020 yang memaparkan sebanyak 532 ribu satuan pendidikan mengajukan permohonan izin melangsungkan PTM. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dinilai sangat jauh dari efektif. Pada awalnya, PJJ diterima sebagai alternatif jangka pendek menggantikan PTM di saat pandemi. Akan tetapi, semakin lama pelaksanaan PJJ yang tak kunjung usai memunculkan masalah dan tantangan baru.

Learning loss yang menghantui

PJJ yang bersandar pada keberadaan teknologi menjadi pengganti yang payah untuk pembelajaran tatap muka. Sebelum ribut tentang menurunnya kualitas pembelajaran, masalah utama yang perlu diselesaikan adalah tentang ketersediaan akses

SMERU Research Institute pada 2020 menemukan fakta bahwa peserta didik di sekolah negeri yang berlokasi di wilayah pedesaan, khususnya di luar Pulau Jawa, berada di situasi amat sulit untuk melaksanakan PJJ. Mulai dari akses terhadap gawai dengan fitur yang memadai untuk pembelajaran daring, akses terhadap internet, guru yang adaptif, orang tua yang mampu mendampingi saat belajar atau menyediakan fasilitas untuk pembelajaran daring, hingga sekolah yang belum bisa memberikan dukungan memadai.

Fakta serupa terlihat dalam rilis analisis survei oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Guru di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T) mengungkapkan 93,3% siswa mengalami hambatan berupa kurang memadainya fasilitas pendukung, antara lain listrik, jaringan internet, gawai, laptop, dan sebagainya. 

Survei juga menunjukkan bahwa tantangan terbesar lainnya adalah kurangnya konsentrasi dalam belajar dan kemampuan mengoptimalkan media digital. Jika masalah-masalah tersebut berlanjut, dapat dipastikan bahwa peserta didik yang berada dalam situasi kurang beruntung berpotensi mengalami penurunan kemampuan belajar (learning loss). 

The Education and Development Forum mengartikan learning loss sebagai situasi di mana peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan, baik umum atau khusus, atau kemunduran secara akademis yang terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau ketidakberlangsungannya proses pendidikan. Tentu, dampaknya baru akan terasa dalam jangka panjang. Beberapa studi menunjukkan bahwa penurunan kemampuan belajar seorang murid saat ini akan mempengaruhi perkembangan pengetahuannya kelak yang berpotensi menciptakan ketimpangan pendapatan di masa depan.

Pada Agustus 2020, World Bank merilis publikasi yang menyatakan estimasi dampak learning loss yang dialami oleh anak-anak Indonesia karena penutupan sekolah akibat pandemi COVID-19. Dalam kurun waktu empat bulan, sejak Maret hingga Juli 2020, diperkirakan skor PISA anak Indonesia menurun sebanyak 11 poin di kategori membaca dan pendapatan tahunan mereka di masa depan akan mengalami penurunan sebesar 249 dolar. 

Sederet implikasi lain yang tak kalah penting

Badan dunia seperti World Bank, United Nations Children’s Fund (UNICEF), United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), serta organisasi otoritatif lainnya sepakat mendorong pentingya pembukaan sekolah dengan pemberlakuan standar ketat. Hal ini tentu saja karena sekolah mempunyai peran krusial dalam tumbuh kembang anak. Bukan saja menjadi tempat anak memperoleh keterampilan kognitif, sekolah juga merupakan wadah di mana anak bisa bermain tanpa terbebani pekerjaan domestik. Sekolah adalah tempat mereka mendapatkan perlindungan aman serta yang menyediakan nutrisi penting untuk tumbuh kembang bagi sebagian anak. 

Penutupan sekolah dan pemberlakuan PJJ menutup semua akses tersebut sehingga banyak anak yang bukan hanya mengalami keterlambatan progres akademik, tetapi juga kehilangan kesempatan bersosialisasi dengan sebaya. Lebih dari itu, anak-anak pun tidak mendapat perlindungan dan pemenuhan hak yang layak. Hasilnya, kasus kekerasan terhadap  anak meningkat, dispensasi pernikahan usia anak naik drastis, serta kesehatan mental anak terganggu.

Melansir Katadata, UNICEF mencatat sebanyak 938 anak usia 7 hingga 18 tahun putus sekolah karena terdampak pandemi. Dari jumlah tersebut, 74% anak putus sekolah karena tidak ada biaya, 12% karena tidak ada keinginan, 3% karena pengaruh lingkungan, 2% karena bekerja, dan 8% karena alasan lainnya. Situasi ini dianggap menjadi lonceng tanda bahaya karena berpotensi meningkatkan potensi permasalahan sosial, salah satunya pernikahan anak.

Data dari situs resmi Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung menunjukkan fakta bahwa angka dispensasi pernikahan melonjak tajam terutama saat pandemi. Pada 2016 ada 6.488 dispensasi yang dikabulkan; 2017 ada 11.819; 2018 ada 12.504; 2019 ada 23.126; dan 2020 sebanyak 64.211. Melonjaknya angka pernikahan anak nantinya turut meningkatkan angka kematian ibu, anak stunting, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat terdapat 3.087 kasus kekerasan terhadap anak dalam kurun 1 Januari sampai dengan 19 Juni 2020. Jenis kekerasan tersebut di antaranya 852 kasus kekerasan fisik, 768 kasus kekerasan psikis, 1.848 kasus kekerasan seksual, 50 kasus eksploitasi anak, 60 kasus tindak pidana perdagangan orang, dan 228 kasus penelantaran.

Selama masa pandemi, anak juga harus memikul beban ganda: belajar dan melakukan kerja domestik. Banyak dari mereka yang juga harus membantu orang tua bekerja karena pandemi mengurangi penghasilan atau bahkan menghilangkan pekerjaan para orang tua. 

Anak-anak terus dibayangi pekerjaan sekolah yang menumpuk dengan interaksi sosial yang sangat terbatas. Di usia muda, mereka terpaksa harus berhadapan dengan keadaan yang serba tidak kondusif. Hal tersebut mengakibatkan anak kelelahan, mudah marah, stres, khawatir berlebih, hingga menimbulkan gejala depresi.

Dikutip dari BBC Indonesia, Survei KemenPPPA terhadap lebih dari 3.200 anak SD hingga SMA pada Juli 2020 lalu menemukan 13% responden mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa “kenormalan baru”. Sebanyak 93% yang menunjukkan gejala depresi berada pada rentang 14-18 tahun, sementara 7% di rentang usia 10-13 tahun.

Pertanyaan besarnya adalah proyeksi berkurangnya penghasilan serta risiko kesehatan mental yang menjadi alasan utama Pemerintah menganjurkan PTM ini sebenarnya, at what cost? 

Risiko pembelajaran tatap muka

Sayangnya, kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka ternyata juga berisiko besar bagi keselamatan dan kesehatan anak, bahkan untuk komunitas.

  • Anak terinfeksi COVID-19

Meskipun anak-anak mempunyai tingkat kerentanan 30-50% lebih rendah dibandingkan orang dewasa dan bila terinfeksi akan menampakkan tanpa gejala atau bergejala ringan, tetap saja sekecil apapun persentasenya akan ada anak yang berisiko terinfeksi. Bahkan, temuan IDAI menunjukkan Indonesia adalah negara dengan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi pada anak akibat COVID-19 di kawasan Asia Tenggara.

Kekhawatiran bertambah sejak munculnya varian baru yang menyebabkan situasi menjadi lebih tak menentu, salah satunya varian Delta. Varian ini berisiko menular dengan cepat dan menimbulkan gejala berat pada anak dan remaja. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan kecenderungan COVID-19 varian Delta menyerang mereka yang berusia di bawah 18 (delapan) tahun pada sejumlah daerah yang sedang mengalami lonjakan kasus. Situasi ini dilaporkan berdasarkan laporan penelitian Whole Genom Sequencing dari Kudus yang didominasi oleh kasus varian Delta.  

  • Kluster sekolah

Ancaman terburuk dari penyebaran yang terjadi di sekolah, baik antarmurid, antarguru dan murid, maupun di antara tenaga kependidikan yang ada di lingkungan sekolah, adalah adanya transmisi penularan dari anak ke orang tua dan/atau kakek/nenek yang berusia lanjut, yang sangat rawan mengalami infeksi COVID-19 dalam bentuk gejala klinis berat. Kondisi ini pada akhirnya juga berkontribusi pada besarnya penularan yang terjadi di komunitas.

Kemungkinan tersebut menjadi lebih besar mengingat saat ini anak belum menjadi prioritas vaksinasi. Pemerintah masih fokus memberikan vaksin untuk kelompok rentan di atas 19 tahun. Padahal dengan vaksinasi, risiko anak terinfeksi COVID-19 akan berkurang saat kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka di sekolah dimulai.

Prinsip kepentingan terbaik bagi anak 

Di tengah badai kebimbangan antara menjaga anak dari risiko COVID-19 dan memenuhi hak anak akan pendidikan layak serta kesehatan mental yang terjaga, maka setiap tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa hendaknya berdasarkan pada prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Pada situasi ini, posisikan setiap dari kita sebagai orang tua. 

Orang tua, mau tak mau, menjadi ujung tombak dari keputusan apapun terkait kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan anak di masa sulit ini. Seperti apa dunia mereka besok, dan seperti apa masa depan mereka nantinya, menjadi tanggung jawab kita hari ini. Keputusan harus mempertimbangkan dengan baik situasi dan kondisi anak, kemampuan orang tua dan sekolah, serta kebijakan pemerintah daerah dalam regulasi PTM dan kemampuan mitigasi risiko. Sebelum menentukan keputusan, ada tiga pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. 

Pertama, orang tua yang mampu menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran daring termasuk memfasilitasi pembelajaran mandiri yang nyaman, dan keluarga berada di daerah dengan kasus COVID-19 yang mengkhawatirkan, sangat disarankan untuk tetap mendukung sepenuhnya kegiatan belajar-mengajar dari rumah. 

Kedua, orang tua yang tidak memiliki bekal yang memadai atau berada pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran daring termasuk memfasilitasi pembelajaran mandiri yang nyaman, dan keluarga berada di daerah yang aman dari lonjakan kasus COVID-19, dapat mempertimbangkan persetujuan kegiatan belajar-mengajar tatap muka di sekolah. 

Namun, keputusan partisipasi anak dalam PTM tetap harus memperhatikan:

  • Sekolah sudah memenuhi standar protokol kesehatan.
  • Persiapan kebutuhan penunjang untuk anak, seperti rencana transportasi, masker, pembersih tangan, bekal makanan dan minuman, serta persiapan tindak lanjut jika dikemudian hari anak terpapar atau bahkan terinfeksi COVID-19 dari lingkungan sekolah. 
  • Anak diberi pemahaman tentang aturan dan tata cara melindungi diri dari penyebaran dan penularan COVID-19.

Ketiga, orang tua yang tidak mampu menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran daring termasuk memfasilitasi pembelajaran mandiri yang nyaman, dan keluarga berada di daerah zona merah sehingga tidak dimungkinkan untuk melaksanakan PTM, dapat menyampaikan kendala pelaksanaan PJJ kepada pihak sekolah, ketua Rukun Warga (RW) setempat, atau bahkan Pemerintah Desa untuk dicarikan solusinya bersama-sama.

Ada beragam praktik baik gotong royong pendidikan yang dapat kita temui di tengah pandemi. Ambil contoh program “Wi-Fi Desa” yang diinisiasi oleh Kepala Desa Kelapapati di Bengkalis di Riau, program “Biznet Free Wi-Fi Program for Education” yang dilakukan oleh perusahaan Biznet Networks, atau bahkan inisiatif warga menyediakan akses Wi-Fi gratis dan gawai di Kecamatan Sunggal di Deli Serdang di Sumatera Utara.

Berbagai program tersebut dapat dijadikan rujukan bagaimana Pemerintah dan masyarakat dapat memberikan dukungan bagi anak-anak dari keluarga kurang beruntung agar tidak semakin tertinggal dalam menjalankan proses pendidikannya. Terlebih pada masa pandemi yang berpotensi memperlebar jurang yang sudah ada. 

Pandemi telah menjungkir-balikkan dunia anak dan remaja dalam banyak hal. Dengan mempertimbangkan situasi-situasi di atas,  diharapkan skenario yang dipilih tetap mampu memberi anak pendidikan yang berkualitas dan sistem dukungan untuk resiliensi menghadapi pandemi COVID-19.

*Apriliani Kusumawati adalah pegiat isu anak dan asisten dosen mata kuliah Hukum Pidana di Universitas Islam Batik Surakarta dan Institut Agama Islam Negeri Surakarta. 

*Evi Baiturohmah adalah penerjemah lepas dan fasilitator untuk isu anak dan remaja.

Bahan Bacaan:

Harususilo, Yohanes Enggar. 2020. “Wifi Desa”, Praktik Baik Gotong Royong Pendidikan di Tengah Pandemi dari Riau. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/edu/read/2020/08/08/145237571/wifi-desa-praktik-baik-gotong-royong-pendidikan-di-tengah-pandemi-dari-riau pada 28 Juni 2021.

IDAI. 2021. Press Conference 5 Organisasi Profesi Dokter Melonjaknya Kasus COVID-19. IDAI TV. Diakses dari  https://www.youtube.com/watch?v=e4ZlSJm5FSI pada 23 Juni 2021.

Jayani, Dwi Hadya. 2021. Dampak Pandemi Mayoritas Anak Indonesia Putus Sekolah Karena Ekonomi. Katadata. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/04/08/dampak-pandemi-mayoritas-anak-indonesia-putus-sekolah-karena-ekonomi.

Kemdikbud. 2020. Analisis Survei Cepat Pembelajaran dari Rumah dalam Masa Pencegahan COVID-19. Jakarta: Kemdikbud.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2020. Profil Anak Indonesia Tahun 2020. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Nugraheny, Dian Erika. 2021, Varian Baru Virus Corona Berisiko Menular ke Anak. Kompas. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2021/05/11/21364661/varian-baru-virus-corona-berisiko-menular-ke-anak-anak-pemerintah-diminta?page=all pada 26 Juni 2021.

Milana, Robby. 2021. Gotong Royong Tingkatkan Pendidikan saat Pandemi COVID-19. Revolusi Mental. Diakses dari https://revolusimental.go.id/kabar-revolusi-mental/detail-berita-dan-artikel?url=gotong-royong-tingkatkan-pendidikan-saat-pandemi-covid-19 pada 27 Juni 2021.

Tempo.co. 2021. Nadiem Makarim Sebut Pembelajaran Tatap Muka 2021 Bisa Dilakukan. Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/1442577/nadiem-makarim-sebut-pembelajaran-tatap-muka-juli-2021-bisa-dilakukan/full&view=ok pada 26 Juni 2021.

The Smeru Research Institute. 2020. Belajar dari Rumah: Potret Ketimpangan Pembelajaran Pada Masa Pandemi COVID-19. Jakarta: The Smeru Research Institute.

Tim Kompas. 2020. Gotong Royong Internet yang Dibutuhkan. Kompas. Diakses dari  https://www.kompas.id/baca/nusantara/2020/08/01/gotong-royong-internet-yang-dibutuhkan pada 25 Juni 2021.

UKFIET. 2020. The Covid-19 Induced Learning Loss: What is it and How it can be Mitigated?. Diakses dari https://www.ukfiet.org/2020/the-covid-19-induced-learning-loss-what-is-it-and-how-it-can-be-mitigated/how-it-can-be-mitigated/ pada 25 Juni 2021.

Wijaya, Callistasia. 2021. Covid-19: ‘Stres, mudah marah, hingga dugaan bunuh diri’, persoalan mental murid selama sekolah dari rumah. BBC Indonesia. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55992502 pada 25 Juni 2021.

Yarrow, Noah; Masood, Eema; Afkar, Rythia. 2020. Estimated Impacts of COVID-19 on Learning and Earning in Indonesia: How to Turn the Tide. Jakarta: World Bank.  

Edukasi Seks Bukan Hal Tabu

Awal tahun 2021 khalayak cukup dikejutkan dengan viralnya berita Serda Aprilia Manganang, seorang atlet voli putri yang mengalami pergantian jenis kelamin menjadi laki-laki. Beritanya tak hanya renyah disantap oleh kalangan dewasa. Mudahnya akses teknologi dan cepatnya penyebaran informasi, menjadikan isu itu mudah dikonsumsi oleh segala usia,
termasuk para remaja.

Banyaknya aplikasi dan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang sudah sangat dekat dengan para remaja turut menjadikan segala informasi menjadi sangat cepat diakses. Tak terkecuali berita tentang perubahan kelamin yang dialami Manganang. Remaja masa kini yang merupakan generasi Z pun semakin kritis melihat fenomena tersebut.

Salah kaprah edukasi seks

Pemberitaan yang mengandung unsur seksual di negeri yang dikenal beradab dan beragama ini masih dinilai sebagai berita yang kurang patut untuk dikonsumsi publik. Seksualitas adalah ranah privat yang harus ditutupi. Dianggap kurang elok jika dibicarakan di publik, apalagi dibicarakan dengan remaja.

Ya, selamat datang di Indonesia, di mana remaja masih dianggap tabu untuk membahas tentang seksualitas secara terbuka. Padahal, mereka yang berusia 10-18 tahun ini, tengah menapaki fase pubertas yang penuh gejolak seksual karena mengalami proses pematangan alat reproduksi. Dilihat dari sudut pandang hukum, siapa pun yang belum berusia 18 tahun disebut anak.

Sayangnya, remaja atau anak-anak Indonesia ini tidak disiapkan untuk terbuka tentang seksualitas. Pendidikan seksual dan reproduksi masih dianggap sebagai misi bangsa barat dan asing. Dibumbui oleh pemikiran bahwa dalam pendidikan seks dari barat ditumpangi misi penyebaran paham LGBTQ.

Asumsi salah kaprah ini yang akan menjadikan Indonesia akan semakin tertinggal. Tak ayal tingkat kekerasan seksual tercatat semakin meningkat tiap tahunnya. Musababnya, pendidikan seksualitas dan reproduksi bagi anak tidak pernah diberikan. Mereka tumbuh dan berkembang sebagai manusia cacat pengetahuan seksualitas.

Kapankah sebaiknya anak dibekali pendidikan seksual?

Manusia lahir sebagai makhluk seksual. Kita dianugerahi oleh Tuhan dengan alat kelamin. Sejak usia 1 tahun, orang tua harus mengenalkan anaknya tentang alat kelaminnya. Mulai menyebutnya dengan istilah ilmiahnya, bukan mengganti istilah penis anak laki-laki dengan burung. Menurut psikolog, Naomi Ernawati Lestari, “Alat kelamin itu jangan dibeda-bedakan namanya. Bilang saja penis, bilang saja vagina. Jadi mereka enggak menganggap hal itu sesuatu yang tabu.

Apakah orang tua milenial sudah seia-sekata dengan ini? BELUM. Banyak pasangan masih terpenjara oleh pemikiran konvensional warisan orang tuanya–yang menyamarkan istilah alat kelamin.

Tidak hanya membicarakan tentang organ seksual dan reproduksi, pendidikan seksual memiliki beragam tema. Misalnya, mengajarkan anak menghormati privasi orang tua dan sebaliknya, orang tua pun harus menghormati privasi anak. Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari adalah meminta izin jika mau masuk ke kamar anak.

Banyak tema pendidikan seksual lainnya yang juga tak kalah penting. Seperti, mengapa kita harus memisahkan kamar anak dengan orang tua maupun dengan saudaranya. Kemudian, bagaimana cara kita terbuka membahas tentang perubahan anak dengan bahasa yang tidak menyudutkannya.

Berawal dari keluarga

Pendidikan seksualitas harusnya diawali dari keluarga. Orang tua harus menjadikan rumah sebagai tempat paling aman dan nyaman bagi anak membicarakan serta berbagi cerita tentang seksualitas. Dari rumahlah, anak disiapkan untuk beradaptasi dengan realitas di dunia luar.

Sebelum mengedukasi anak, orang tua harus teredukasi lebih dahulu. Sudah sepantasnya para orang tua, menempatkan kebutuhan pendidikan seksual sama pentingnya dengan pelajaran calistung ataupun pendidikan karakter. Pendidikan seksual bagi anak bisa menjadi penyelamat anak-anak dari kekerasan seksual di hari mendatang.

Lebih dari itu, dengan pendidikan seksual yang diterapkan dengan baik kita bisa bersama-sama menekan angka kekerasan seksual pada anak. Dari situ pula, kita bisa jadi dapat mendukung pengurangan jumlah perkawinan usia anak. Adalah sebuah omong kosong mengurangi kuantitas tanpa meningkatkan kualitas kecakapan manusianya. Dengan begitu, tidak akan ada lagi anak yang memandang fenomena Manganang sebagai peristiwa aneh.

Memberi Sudut Pandang Baru

Saya ingin membagikan pengalaman ini karena saya tidak ingin ada Sherly-Sherly lainnya yang berpikiran buruk terhadap mereka yang pernah salah dan berkonflik dengan hukum.

Sebelum mengenal Sahabat Kapas, saya adalah orang yang sangat penakut. Ketika ada orang asing yang tiba-tiba mendekat, secara otomatis saya merasa takut dan menjadi overthinking.

Hal-hal seperti ‘apakah orang ini akan menyakiti saya? apa yang orang ini akan lakukan terhadap saya?’ sangat mungkin terlintas di pikiran saya. Padahal, apa yang saya pikirkan belum tentu terjadi.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Setelah hampir 2 tahun berkecimpung dan belajar dengan teman-teman Sahabat Kapas, perlahan saya tahu bagaimana cara mengatasi overthinking saya tadi. Pelan-pelan saya bisa mengubah mindset yang awalnya sangat penakut, menjadi jauh lebih bisa menerima keberadaan orang lain tanpa prasangka buruk yang berlebihan.

Sejak beraktivitas di Kapas, saya tidak lagi menjadi Sherly yang tertutup akan kehadiran orang baru di sekitar saya. Kini saya menjadi orang yang mampu untuk berdamai dengan diri sendiri dan pada akhirnya membuat saya bisa lebih terbuka untuk menerima orang baru. Bahkan, saya kini berusaha menjadi sahabat dan teman curhat bagi Anak yang berkonflik dengan hukum (ABH), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal.

Kuncinya ternyata adalah berdamai dengan diri sendiri untuk mengubah segala mindset buruk yang sudah ada dalam pikiran.

Menjadi Orang yang Lebih Peduli

Dengan berkegiatan bersama Sahabat Kapas, saya mulai menyadari bahwa kecemasan yang saya alami terhadap orang asing terjadi karena saya belum mengenal mereka dengan baik. Buktinya, ketika saya mencoba terbuka dengan ABH pada saat kegiatan pendampingan, saya menyadari bahwa sejatinya mereka adalah orang-orang baik yang hanya belum saya kenal. Mereka sangat perhatian dan ternyata bisa diajak untuk bekerja sama.

Semakin lama, semakin saya mafhum bahwa anak-anak dampingan Kapas sejatinya adalah orang-orang baik yang tidak tahu apa potensi dirinya dan terus bergulat dengan semua masalah di masa lalunya. Saya pun menyadari bahwa mereka benar-benar membutuhkan orang yang peduli serta mau mengakui bahwa mereka mampu dan bisa melakukan hal baik di masa depan.

Rupanya banyak sekali hal yang bisa saya ambil dan pelajari dari Sahabat Kapas tentang menghadapi kehidupan sosial. Saya belajar bagaimana saya harus bersikap ketika bertemu atau berinteraksi dengan orang baru. Saya juga melatih diri bagaimana harus bersikap dan bertindak ketika menjumpai orang yang mempunyai masalah berat.

Pun saya belajar bagaimana menyikapi perilaku anak-anak yang sudah terlewat batas dan mengantarkannya ke hal-hal negatif. Mereka membutuhkan kita, saya dan Anda yang percaya bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Anak Berkonflik Hukum dan Kesempatan Keduanya

Selama lima tahun terakhir ini, kasus Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) menunjukkan grafik yang fluktuatif. Merujuk pada data KPAI, dapat terlihat secara keseluruhan bahwa klaster ABH selalu menempati peringkat pertama, apalagi kalau bicara tentang situasi pandemi sekarang ini; potensi angka ABH untuk meningkat semakin terasa.

Bentuk Kenakalan Remaja

Remaja dan “kenakalannya” memang seakan tidak bisa dijauhkan. Hal tersebut dikarenakan mereka masih butuh waktu untuk belajar memahami yang benar dan yang salah. Meski begitu, memang apa sih yang bisa dilakukan anak remaja sampai-sampai harus dijatuhi hukuman penjara?

Kenakalan remaja yang dapat melanggar hukum bisa dibagi menjadi dua: kenakalan yang menjurus ke tindak kriminal dan kenakalan khusus. Kenakalan yang menjurus ke tindak kriminal, di antaranya mencuri, aborsi, memperkosa dan sebagainya. Sedangkan kenakalan khusus adalah kenakalan yang diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Khusus, seperti narkotika, pencucian uang, cyber crime, pelanggaran HAM, dan lain sebagainya.

Selama periode 2019, Sahabat Kapas mencatat sejumlah 116 klien anak terdaftar di LPKA Kutoarjo, LAPAS Klaten dan Rutan Surakarta. Di antara jumlah tersebut, bentuk-bentuk kasus yang dilakukan adalah persetubuhan, pencurian, pengeroyokan, penganiayaan, narkotika, pornografi dan pembunuhan.

Setelah dilihat-lihat ternyata pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh orang dewasa. Kenapa bisa dilakukan oleh anak-anak yang seharusnya tengah sibuk belajar dan bermain?

Salah Pergaulan?

Ya, pergaulan adalah faktor krusial, tapi hanya salah satunya. ABH sering dikait-kaitkan dengan lingkungan pergaulan yang buruk atau tingkat ekonomi yang rendah. Padahal, justru keluarga yang memiliki peranan terpenting di sini, di mana anak-anak ini banyak yang kekurangan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya. Kedengarannya sepele memang, tapi dampaknya tak bisa dianggap remeh.

Anak akan dengan sendirinya menyesuaikan diri untuk memilih teman yang memiliki kesamaan, entah itu kepribadiannya atau hobinya. Dan kepribadian itu lah yang sudah terbentuk sedari kecil selama ia dibesarkan di rumah. Apa yang terjadi di rumah dan bagaimana dia diperlakukan di rumah, hal-hal itu yang akan membentuk karakteristiknya. Jadi, salah pergaulan bukan faktor utamanya.

Perihal kebutuhan kasih sayang, setiap anak tidak ada bedanya. Mereka sama-sama butuh dekapan orang tuanya. Sayang sekali realita mengatakan kalau tidak semua orang memiliki kapabilitas yang sama untuk memberikan afeksi terbaik bagi anaknya. Hasilnya, anak sering bertingkah demi mendapatkan perhatian orang tua.

Ditambah lagi apabila seorang anak berada di dalam kondisi keluarga yang kurang harmonis. Pertengkaran anggota keluarga akan berdampak paling tidak dua hal bagi anak, membuatnya stress atau membuatnya mencontoh hal tersebut. Ketika anak merasa rumahnya bukan lagi tempat teraman baginya, mereka bisa melakukan segala hal untuk meluapkan emosi, termasuk juga hal-hal yang bisa menyebabkannya berurusan dengan hukum. Kembali lagi, apa yang terjadi di dalam rumahnya, itulah yang akan membentuk karakteristiknya. Ya, karena anak adalah peniru terbaik. Mereka sedang dalam proses belajar dan menganggap apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang sah-sah saja kalau diikuti.

Sudahlah faktor-faktor ini mendorong anak terjerumus ke dunia kriminal. setelah keluar pun, mereka tidak bisa serta merta kembali ke kehidupan normal. Berada jauh dari orang yang tersayang, apalagi keluarga pasti nggak enak, kan? Bayangkan seberapa rindunya adik-adik ini akan kehidupan lamanya di balik dinding yang dingin. Mereka sudah terlalu rindu sampai sering membayangkan: nikmat betul kalau aku bisa bertemu keluarga lagi, bermain dengan teman-teman lama dan kembali ke sekolah seperti sedia kala. Namun, bayangan tetap jadi bayangan dan kenyataan tidak sesuai ekspektasi.

Salah satu hal yang membuat saya mempertanyakan rasa kemanusiaan kita adalah fakta bahwa beberapa dari adik-adik ini merasa—dan memang—kesulitan untuk terintegrasi kembali ke masyarakat. LPKA Kelas I Palembang menjadi salah satu lembaga pembinaan yang tetap membuka fasilitas sekolah bagi anak-anak yang sudah terbebas dari tuntutan. Tidak sedikit dari mereka yang sudah bebas memilih untuk melanjutkan sekolah di sana. Kenapa? Mereka berpikir kehadirannya di tengah-tengah masyarakat tidak cukup dihargai. Jangankan oleh teman-temannya, orang tuanya pun bisa bersikap sama.

Ujungnya, terbentuklah lingkaran setan yang menjadi perangkap anak-anak ini di sistem peradilan dan kehidupan sebagai kriminal.

Rehabilitasi dimulai dari yang terdekat

Lingkungan sekitar sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi support system terbaik bagi adik-adik ini. Mereka butuh kehangatan dan pengakuan. Kita bisa membantu adik-adik kita menerima kembali apa yang mereka rindukan. Tanpa melabelinya sebagai anak yang begini dan begitu, kita bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka.

Kekerasan bisa muncul dari mana saja; dari dalam rumah, dari lingkungan sepermainan. Dan kekerasan tidak melulu soal pertengkaran fisik, tapi juga secara verbal melalui apa yang kita katakan. Menghargai sesama itu mudah kok asalkan kita bisa melakukannya #tanpakekerasan.

Terlepas dari apa yang membuatnya harus berhadapan dengan hukum, mereka tetap saja anak-anak. Mereka berhak mendapat kesempatan kedua untuk menerima kebebasan. Bebas untuk bermain sepuasnya, belajar tanpa hambatan, bersosialisasi dan bebas menjadi manusia seutuhnya tanpa dibeda-bedakan. Mereka berhak mengembangkan hobinya tanpa diberi stigma negatif. Apa yang membuatnya harus memasuki LPKA, itu bagian dari masa lalu mereka.

Artikel ini adalah bagian dari campaign “Semua bisa dibicarakan #tanpakekerasan”, hasil kerja sama antara Sahabat Kapas dan Plain Feminism

Penulis: Firza Aliya A.

Sumber gambar: Freepik

Membawa Semangat Sahabat Kapas di Mana pun Berada

Sudah lebih dari 3 tahun saya berhenti menjadi relawan reguler Sahabat Kapas. Sebuah keputusan yang harus saya ambil karena diterima menjadi abdi negara dan ditempatkan di luar wilayah Soloraya. Empat tahun rutin berkegiatan bersama Sahabat Kapas ternyata membuat saya berubah dalam banyak hal. Sesuatu yang baru saya sadari belakangan.

Terbiasa duduk bersama, membicarakan banyak hal bersama tim Sahabat Kapas membuat saya selalu merindukan ruang diskusi di berbagai kesempatan. Kebiasaan kecil yang ternyata menjadi amat berharga karena tidak semua komunitas mampu memberi kesempatan bertukar pikiran.

Semangat Memberi dan Berbagi 

Sahabat Kapas menjadi tempat saya belajar banyak hal. Saya yang dulu lebih memilih diam dan menyimpan gagasan liar untuk diri sendiri, berproses menjadi orang yang nyaman berbicara di depan umum. Saya yang selama seperempat abad nyaris tidak pernah terlibat kegiatan sosial, akhirnya sangat menikmati ketika mampu melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, khususnya anak-anak dampingan Sahabat Kapas.

Semangat memberi dan berbagi yang ditumbuhkan Sahabat Kapas saya usahakan untuk terus ada di mana pun saya berada. Meskipun tidak lagi menjadi bagian inti Sahabat Kapas, saya beruntung memiliki kesempatan menjadi relawan khusus yang masih diberi kepercayaan bergerak untuk anak-anak di balik jeruji besi

Melakukan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan terhadap anak-anak yang berkonflik dengan hukum menjadi bagian penting tugas pekerjaan saya saat ini. Bukan tanpa alasan, saya yang sebelumnya selalu menolak menjadi abdi negara akhirnya mau mencoba mengikuti seleksi untuk jabatan pembimbing kemasyarakatan. Jabatan yang tidak pernah saya tahu ada sebelum menjadi relawan Sahabat Kapas. Jabatan yang sedikit banyak ikut menentukan nasib anak-anak yang berkonflik dengan hukum. 

Pemahaman bahwa penjara adalah pilihan terakhir bagi anak menjadi dasar untuk saya memberikan rekomendasi kepada anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Pemahaman berharga yang saya dapat dari bergabung dengan Sahabat Kapas.

Sahabat Kapas telah menjadi referensi terbaik saya dalam melihat permasalahan anak yang berkonflik dengan hukum.

Tantangan yang Kami Temui

Dulu tidak hanya sekali saya dan beberapa teman di Sahabat Kapas meragukan pendampingan yang telah kami lakukan. Apakah kami telah melakukan hal yang benar? Kenapa masih saja belum ada perubahan dalam sikap dan perilaku anak dampingan? Tentu saja tidak semua pendampingan berhasil. Seringnya justru banyak kendala dan tantangan yang kami hadapi.

Ada anak yang kami harapkan mampu mencapai harapannya untuk kuliah ternyata menjadi korban penipuan karena masih bergaul dengan mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang dikenalnya di lapas. Selain itu, ada anak yang masih saja belum mampu menghentikan kebiasaannya mengonsumsi minuman beralkohol padahal dukungan orang tua kami nilai sudah cukup untuk membuatnya memperbaiki perilaku. Ada pula anak yang harus merasakan penolakan masyarakat karena telah beberapa kali melakukan tindak pidana sehingga tidak mendapatkan hak integrasinya. 

Berbagai kejadian yang kami hadapi akhirnya memaksa kami untuk terus berpikir dan mencari solusi, berjejaring, membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang memiliki kewajiban maupun kepedulian terhadap nasib anak-anak dampingan kami.

Tidak jarang kami harus mengatur emosi ketika berhadapan dengan beberapa orang yang masih saja mengedepankan ego-sektoral. Mereka yang masih melihat siapa dan bukan apa informasi yang disampaikan. Namun, kami tidak pernah membiarkan mereka mengusik tujuan kami: mencari solusi terbaik bagi anak-anak dampingan dengan memberi sebanyak mungkin pilihan.

Febi Dwi S.

Relawan Khusus Sahabat Kapas


Aku dan Miras: Seteguk Nikmat vs. Sebaper Curhat

Gonjang ganjing terkait Perpres investasi miras (yang akhirnya dicabut oleh Presiden Jokowi) mengingatkan saya pada obrolan ngalor ngidul dengan anak-anak yang pernah saya dampingi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Banyak di antara mereka mengaku tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan terjadi karena efek miras. Mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir panjang dan merasa jauh lebih berani melakukan kekerasan saat tersulut amarah.

Percakapan dengan para remaja ini selalu menjadi highlight proses saya mendampingi mereka. Saat istirahat kegiatan, di sela-sela permainan, atau saat duduk di depan kelas, saya bisa mendengarkan cerita mereka berjam-jam. Tidak ada yang membuat lebih bahagia daripada mereka yang percaya pada saya sehingga bisa bercerita dengan santai. 

Banyak yang mereka bagi, tentang enaknya ciu yang dicampur Ale-Ale, mudahnya membeli miras oplosan, atau bahagianya mereka karena bisa melupakan masalah dengan sebotol bir murahan meski hanya untuk sementara.

Sebenarnya, para remaja ini sadar betul jika miras bisa  mengakibatkan kecanduan dan merusak kesehatan. Namun, risiko-risiko itu serasa minor dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka dapatkan: menjadi bagian dari kelompok pertemanan, menghilangkan beban pikiran, hingga meningkatnya kepercayaan diri dan keberanian.

Seorang anak pernah bercerita bahwa miras membuatnya lebih ‘berani’ saat chatting dengan teman perempuannya. Jika tidak minum, dia tidak punya nyali untuk flirting atau sekedar membuat percakapan lebih mengasyikkan.

Anak lainnya berujar jika ayahnya sering berbagi miras dengannya. Dia bebas menenggak minuman beralkohol itu kapanpun dia mau. Banyak pula yang mengaku tak kuasa menolak ajakan kawannya untuk meneguk ciu dari botol bekas Aqua saat nongkrong di alun-alun kota.

Kelindan Miras dan Remaja

Masalah miras dan remaja ini memang njlimet dan tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Bukan hanya di Indonesia, banyak negara maju yang juga kesulitan menangani kompleksitas isu remaja, miras, dan dampaknya di masyarakat.  Meskipun demikian, ternyata ada loh negara yang berhasil dengan gemilang menurunkan angka konsumsi alkohol dan narkoba pada remaja!

Pada tahun 2018, World Economy Forum menurunkan sebuah artikel panjang tentang bagaimana Islandia berhasil menurunkan angka remaja yang mengonsumsi alkohol dan narkoba. Di negara Nordik, tren remaja mengonsumsi miras memang cenderung turun. Namun, Islandia mencetak statistik mengagumkan dalam mengubah perilaku remaja dalam mengonsumsi miras. 

Berangkat dari hasil riset tentang perilaku keseharian remaja, Pemerintah Islandia kemudian merumuskan rencana nasional yang dikenal dengan istilah Youth in Iceland. Pada intinya, pemerintah berinvestasi pada program penguatan orang tua dan sekolah, penyediaan fasilitas olah raga dan kesenian gratis, serta pemberlakuan larangan keluar malam. Voila! Angka konsumsi miras di remaja turun drastis dan partisipasi mereka dalam kegiatan olah raga dan seni naik pesat.

Apakah strategi ini bisa diterapkan di Indonesia?


Sebagai jawaban, ada kutipan sarkas di twitter yang mungkin cukup mewakili:

Warga Indonesia itu mau antre dan buang sampah pada tempatnya saja sudah bagus. 

Netizen Indonesia

Rasa-rasanya mimpi replikasi pendekatan di Islandia ke konteks Indonesia tampak hampir mustahil. Paling tidak, bukan dalam waktu dekat. Selain rasio jumlah remaja yang sangat jomplang, warga dan pemerintah Indonesia masih jauh dari kata siap. Seperti yang kita tahu bersama, semua pihak inginnya hasil bagus, tapi hanya sibuk menuntut, susah sekali untuk nurut dan runut. 

Mau ndakik-ndakik meniru Islandia? Mustahil wa mustahila.

Kenyataan ini membuat saya jengkel. Pikiran saya sering mentok. Ketika mendengarkan curhatan mereka, otomatis saya memikirkan alternatif apa yang bisa saya tawarkan agar mereka bisa beralih dari kebiasan mengonsumi miras. Sayangnya, semua opsi tampak tidak doable.

Mau menyarankan agar aktif di kegiatan seni dan olahraga, sarana dan prasarananya tidak tersedia. Menyodorkan ide untuk mengganti lingkaran pertemanan, tidak banyak yang pede dengan riwayat hukum mereka. Ingin  menyarankan supaya lebih aktif berkegiatan dengan keluarga, lah ini kan mereka banyak masalahnya malahan dengan keluarga. Nah.

Curhat Pelipur Lara

Sebagai kakak pendamping, jalan ninja yang bisa saya tempuh adalah meminjamkan telinga untuk mendengar curhat mereka. Sambil sesekali saya memberi tips agar mereka lebih percaya diri saat pedekate dengan gebetan mereka tentunya.

Saya teringat ketika suatu sore ada pesan pendek dari adik dampingan masuk di ponsel saya.

 “Mbak, aku mumet, pengen ngobrol. Ketemuan yo, gak penak lek lewat hp”

Esok harinya kami saling berbagi curcol panjang dan lama. Dia yang masih belum tahu potensi diri dan keinginannya apa, sementara saya yang masih lajang meskipun usia sudah cukup untuk berumah tangga. Dengan jujur dia mengaku bahwa dia takut jika tidak kuat dengan beban pikirannya, dia akan lari ke obat dan miras. Dari situ, dia memutuskan untuk curhat ke saya.

Maknyes. Saya baper. Berkata saya dalam hati, jika miras masih gampang ditemukan, setidaknya saya lebih gampang diajak bercanda dan bisa mentraktir makan. Dengan sepiring lontong tahu di warung dekat taman kota, saya senang percakapan hangat di Minggu pagi itu bisa menggantikan nikmatnya seteguk minuman setan dalam melipur laranya.

Artikel ini adalah bagian dari campaign “Semua bisa dibicarakan #tanpakekerasan”, hasil kerja sama antara Sahabat Kapas dan Plain Movement, kunjungi pula https://plainmovement.id/

Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender

Kegiatan konseling kelompok remaja LPKA bersama Sahabat Kapas

Banyak sekolah yang sudah menyandang predikat sekolah ramah anak. Lalu bagaimana dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA)? Rupanya pemerintah sedang berlomba untuk menjadikan lembaga atau institusi layanan anak sebagai tempat yang ramah anak. Mulai dari fasilitas umum, taman, sekolah hingga fasilitas kesehatan. Semua tempat yang bisa kita temukan anak-anak di sana, akan disulap menjadi tempat ramah anak. Continue reading “Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender”

Kunci Menjadikan Anak Cerdas dan Percaya Diri

Kunci Menjadikan Anak Cerdas dan Percaya Diri

Oleh Kelvin Rivalna Akbar*

Setiap anak dilahirkan dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Rasa ingin tahu tersebut yang mendorong anak untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal di sekitarnya. Sayangnya, banyak orang tua yang kewalahan ketika menghadapi rasa ingin tahu anaknya. Bahkan, tak jarang orang tua sebal dan menyuruh anaknya untuk tidak banyak bertanya macam-macam. Respons orang tua yang demikian akan memunculkan rasa takut dan rasa tidak percaya diri pada anak. Acapkali orang tua enggan menjawab rasa penasaran anak sehingga rasa ingin tahunya terpatahkan. Hal ini akan memunculkan rasa takut dan kurang percaya diri untuk bertanya lagi.

Berikan Perhatian

Respons yang tidak menyenangkan membuat harapan orang tua agar anak belajar dan menjadi pintar secara tidak langsung terpatahkan oleh mereka sendiri. Terkadang orang tua merasa terlalu lelah setelah bekerja dan memilih istirahat dengan bermain smartphone daripada bermain dengan anak-anak. Anak kenyang merupakan indikator orang tua bahwa dia sudah menyelesaikan tanggung jawabnya. Padahal, seharusnya ketika orang tua pulang yang dilakukan adalah mencium sang anak dan menyapanya dengan memberi penghargaan.

Ajak Anak Bermain

Mengajak anak bermain merupakan salah satu fasilitas untuk berkembangnya pikiran anak. Kerena ilmuwan mengatakan bahwa bermain adalah belajar untuk anak. Dengan bermain, secara tidak langsung anak belajar apalagi bermain dengan orang tua. Orang tua akan lebih tahu mengenai anaknya dan menumbuhkan kelekatan dengan sang anak. Ketika anak bertanya, orang tua harus berusaha untuk memberikan penjelasan terbaik untuk anaknya. Penjelasan sebaiknya sesuai porsi anak-anak. Misal anak bertanya “kenapa kalau malam gelap” jawab saja “karena matahari sedang tidur, jadi digantikan dengan bulan yang tidak memiliki cahaya”.

Berikan Pujian dan Penghargaan

Memberikan pujian kepada anak atas usahanya juga dapat secara tidak langsung mengangkat harga diri anak. Sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Penghargaan yang dimaksud tidak dengan membelikan sepatu atau sesuatu yang berbentuk fisik. Cukup katakan kepada anak “Wah hebat, keren, kece, pintar, rajin, dst” akan meningkatkan kepercayaan diri sang anak sehingga anak berkembang menjadi anak yang positif. Katakan hal baik ketika anak melakukan hal baik dapat meningkatkan perilaku baik juga. Karena perubahan yang baik dan disertai pujian yang baik maka perilaku yang baik itu akan meningkat.

Self-acceptance: Mengapa Harus Menerima Diri Sendiri?

Oleh Novita Sari*

“Kenapa aku enggak bisa sesukses dia? Kenapa aku enggak sepintar dan sekeren dia? Kapan sih aku bisa punya apa-apa kaya dia? Kenapa dia lebih beruntung dari pada aku?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali berlalu-lalang di pikiran kita. Tidak harus semua, minimal salah satu pasti ada yang terlintas di pikiran kita. Pertanyaan itu akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam banyak hal daripada kita.

Dengan awalan sekadar pertanyaan “kenapa” lalu timbul rasa cemas, insecure, tidak percaya diri, malu, merasa gagal, dan tidak bernilai.  Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, menjadi orang yang ambisius atau berhenti di tempat. ­Orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri akan merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, hal ini yang akan menjadikan seseorang menjadi ambisius.

Agar kita tidak terjebak dalam rasa insecure, ada satu kemampuan yang bisa dikembangkan. Kemampuan tersebut adalah self-acceptance. Menurut Jersild, self-acceptance (penerimaan diri) merupakan keadaan di mana seseorang bersedia menerima dirinya dari segi fisik, sosial ekonomi, kelebihan, serta kekurangan yang ada pada dirinya.

Salah Kaprah Penerimaan Diri

Dengan menerima diri sendiri, kita akan mampu berdamai dengan kondisi dan apa yang ada pada diri kita, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Ada yang berpendapat bahwa penerimaan diri artinya kita tidak berkembang. Kita berhenti di tempat dan tidak mengusahakan perubahan dalam hidup. Pandangan ini jelas salah kaprah, karena dengan menerima diri sendiri kita akan tahu letak dari ketidakmampuan dan kekurangan kita sehingga kita bisa memperbaikinya.

Langkah awal sebelum kita mengubah sesuatu adalah sadar akan ketidaksempurnaan. Yakni, hal yang akan kita ubah adalah sesuatu yang perlu diubah. Kalau kita tidak sadar tentang hal apa yang akan kita perbaiki, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menerima kekurangan, kita tahu apa yang harus diperbaiki tanpa harus berkecil hati. Selaras dengan kutipan dari Carl Jung, “We Cannot Changes anything unless we Accept it” (Kita tidak dapat mengubah sesuatu tanpa kita menerimanya).

Setelah itu pertanyaan lain yang akan muncul adalah “bagaimana cara untuk menerima diri sendiri?” Seseorang bisa menerima dirinya sendiri dengan cara mengenal siapa dirinya dan menjawab pertanyaan who am i? Selanjutnya, kita juga harus memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Ketiga, kita perlu berdamai dengan kekurangan yang ada pada diri dan yang terakhir  adalah love your self atau cintailah dirimu sendiri.

Cara Ajaib Ajak Anak Berimajinasi Positif

Identitas Buku

Judul Buku                  : Keajaiban Mendongeng
Penulis Buku               : Heru Kurniawan
Tahun Terbit                : 2013
Penerbit                       : Bhuana Ilmu Populer
Tebal Buku                  : XVII + 144 halaman

Banyak dongeng yang kita dengarkan semasa kecil, terpatri rapi dalam ingatan hingga kita dewasa. Inilah cara ajaib dongeng untuk menyihir kita semua….
    Kita mungkin sering berpikir bahwa dongeng hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Nyatanya, setiap orang sejatinya adalah homo fabulans atau makhluk penyuka cerita. Manusia dilahirkan, dibesarkan, dan tumbuh dalam lautan beragam cerita. Kita pasti akan merasa senang dan terhibur dengan berbagai peristiwa imajinatif, seperti yang ada dalam dongeng. Tidak hanya mendengarkan, melalui dongeng kita dapat berimajinasi dan membangun dunia yang diceritakan dalam alam pikiran kita sendiri. Kita akan terdorong untuk mengolah dan menginterpretasikan dunia itu, kemudian menyimpannya dengan rapi dalam benak. Buku Keajaiban Mendongeng karya Heru Kurniawan dibuka dengan cukup apik mengenai potensi yang dimiliki oleh seseorang pada masa kanak-kanak (antara usia 2-13 tahun). Potensi yang dimiliki tersebut akan membawa kita pada pemahaman berapa pentingnya masa kanak-kanak bagi kehidupan seseorang. Hal ini agar kita dapat mempersiapkan hal-hal yang bisa dilakukan guna meningkatkan potensi tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan potensi seorang anak menurut Heru adalah dengan mendongeng. Menurutnya, dongeng memiliki kekuatan menakjubkan untuk menanamkan nilai-nilai moral sebagai penguatan potensi diri seseorang.

Mendongeng: Memperkuat Moral Anak

Dongeng dikatakan memiliki kaitan erat dengan penanaman moral. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, sebaiknya kita memilih dongeng yang seusai dengan perkembangan moral anak. Hal ini agar anak dapat memahami pesan moral dengan lebih mudah dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Metode mendongeng dapat dijadikan salah satu kegiatan pendampingan Sahabat Kapas untuk anak-anak yang berada di lapas. Dengan mendongeng, para fasilitator dapat membangun kedekatan dengan anak-anak di lapas. Selain sebagai sarana hiburan, mendongeng juga dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan berbagai pesan moral kepada anak. Anak-anak yang berada di lapas biasanya datang dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak mengenal kasih sayang orang tua. Rasa kosong akan ketidakhadiran tersebut dapat sedikit demi sedikit diobati dengan cerita dalam dongeng. Selain itu, dengan mendongeng, anak-anak juga bisa diajak untuk berimajinasi secara positif. Dalam Keajaiban Mendongeng, kita akan disuguhi berbagai jenis dongeng beserta penjelasan mengenai usia peruntukannya. Selain memperhatikan tingkatan usia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menyajikan dongeng, khususnya untuk anak-anak. Menariknya, penjelasan-penjelasan tersebut disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, di setiap penjelasan terselip beberapa penggal kisah dongeng, sehingga dapat kita gunakan untuk berlatih mendongeng dengan menarik. Selamat membaca dan mari mendongeng!