Memberi Sudut Pandang Baru

Saya ingin membagikan pengalaman ini karena saya tidak ingin ada Sherly-Sherly lainnya yang berpikiran buruk terhadap mereka yang pernah salah dan berkonflik dengan hukum.

Sebelum mengenal Sahabat Kapas, saya adalah orang yang sangat penakut. Ketika ada orang asing yang tiba-tiba mendekat, secara otomatis saya merasa takut dan menjadi overthinking.

Hal-hal seperti ‘apakah orang ini akan menyakiti saya? apa yang orang ini akan lakukan terhadap saya?’ sangat mungkin terlintas di pikiran saya. Padahal, apa yang saya pikirkan belum tentu terjadi.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Setelah hampir 2 tahun berkecimpung dan belajar dengan teman-teman Sahabat Kapas, perlahan saya tahu bagaimana cara mengatasi overthinking saya tadi. Pelan-pelan saya bisa mengubah mindset yang awalnya sangat penakut, menjadi jauh lebih bisa menerima keberadaan orang lain tanpa prasangka buruk yang berlebihan.

Sejak beraktivitas di Kapas, saya tidak lagi menjadi Sherly yang tertutup akan kehadiran orang baru di sekitar saya. Kini saya menjadi orang yang mampu untuk berdamai dengan diri sendiri dan pada akhirnya membuat saya bisa lebih terbuka untuk menerima orang baru. Bahkan, saya kini berusaha menjadi sahabat dan teman curhat bagi Anak yang berkonflik dengan hukum (ABH), yang sebelumnya sama sekali belum saya kenal.

Kuncinya ternyata adalah berdamai dengan diri sendiri untuk mengubah segala mindset buruk yang sudah ada dalam pikiran.

Menjadi Orang yang Lebih Peduli

Dengan berkegiatan bersama Sahabat Kapas, saya mulai menyadari bahwa kecemasan yang saya alami terhadap orang asing terjadi karena saya belum mengenal mereka dengan baik. Buktinya, ketika saya mencoba terbuka dengan ABH pada saat kegiatan pendampingan, saya menyadari bahwa sejatinya mereka adalah orang-orang baik yang hanya belum saya kenal. Mereka sangat perhatian dan ternyata bisa diajak untuk bekerja sama.

Semakin lama, semakin saya mafhum bahwa anak-anak dampingan Kapas sejatinya adalah orang-orang baik yang tidak tahu apa potensi dirinya dan terus bergulat dengan semua masalah di masa lalunya. Saya pun menyadari bahwa mereka benar-benar membutuhkan orang yang peduli serta mau mengakui bahwa mereka mampu dan bisa melakukan hal baik di masa depan.

Rupanya banyak sekali hal yang bisa saya ambil dan pelajari dari Sahabat Kapas tentang menghadapi kehidupan sosial. Saya belajar bagaimana saya harus bersikap ketika bertemu atau berinteraksi dengan orang baru. Saya juga melatih diri bagaimana harus bersikap dan bertindak ketika menjumpai orang yang mempunyai masalah berat.

Pun saya belajar bagaimana menyikapi perilaku anak-anak yang sudah terlewat batas dan mengantarkannya ke hal-hal negatif. Mereka membutuhkan kita, saya dan Anda yang percaya bahwa selalu ada kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Setiap Anak Itu Unik

Albert Einstein menulis, “Semua orang jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani seluruh hidupnya dengan percaya bahwa ia bodoh.”

Ketika membaca alegori dari Albert Einstein tersebut, ada getaran dalam hati saya untuk percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh. Bagaimana dengan Anda?

Bayangkan rasanya ketika orang tua atau orang-orang di sekitar membanding-bandingkan Anda dengan orang lain. Lalu, bagaimana pula rasanya ketika dulu orang tua Anda terus-menerus berkomentar tentang nilai-nilai sekolah Anda yang jelek?

Ada dua kemungkinan. Ada sebagian besar orang yang mungkin akan menjadikannya motivasi untuk bangkit dan percaya diri. Namun, ada juga mereka yang akan merasa tertekan dan menganggap dunianya sudah runtuh. Menurut Anda, kemungkinan mana yang biasanya lebih sering terjadi?

Jangan Terjebak Standar Orang Lain

Saya teringat, pernah suatu kali turut serta dalam seminar parenting. Pada sesi tanya jawab, ada seorang ibu mengajukan sebuah pertanyaan kepada narasumber:  “Anak saya sangat pemalu ketika berada di kelas, padahal saya sudah berusaha untuk memberikan dorongan agar ia lebih berani seperti teman-temannya. Apa yang harus saya lakukan, ya?”

Ibu tersebut menganggap anaknya yang baru berusia lima tahun bermasalah karena tidak memiliki rasa percaya diri ketika harus ketika diminta ke depan kelas. Padahal, menurut ibu tersebut, sang anak sangat aktif ketika berada di rumah.

Melanjutkan ceritanya, sang ibu juga menambahkan telah seringkali menyemangati anaknya dengan mengatakan, “Dek, mbok kaya Mbak N itu loh, anaknya pintar dan berani. Ayo, besok kalau ibu guru minta Adek maju, enggak usah malu, ya!”

Menanggapi cerita sang ibu, narasumber pada acara tersebut mengatakan bahwa apa yang dirasakan Ibu tersebut kemungkinan besar juga dirasakan oleh ibunya dahulu. Bahwasanya, dahulu ia adalah seorang anak yang pemalu dan masih takut berinteraksi di sekolah. Hal ini wajar terjadi, karena lingkungan sekolah tidak senyaman lingkungan di rumah. Narasumber seminar juga menegaskan bahwa perlu waktu yang berbeda–beda untuk anak dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

Mengingat usia anak yang masih sangat muda, narasumber mengingatkan bahwa masih ada waktu panjang untuk sang anak belajar dari lingkungan. Ibu tersebut pun tidak perlu terburu-buru menganggap sang anak sebagai anak yang bermasalah.

Terakhir, sang narasumber juga memberikan apresiasi kepada orang tua yang tetap memberikan dorongan bagi sang anak untuk memunculkan rasa percaya diri. Namun demikian, perlu diingat bahwa dorongan yang diberikan tidak boleh bersifat memaksa. Akan menjadi kesalahan fatal, apabila orang tua membandingkan anak dengan standar anak lainnya.

Sebab Setiap Anak Istimewa

Stimulus atau dorongan positif sangat penting untuk tumbuh kembang seorang anak. Misalnya, dengan melihat kembali apakah menjadi pemalu adalah hal yang buruk?  Sebelum menganggap pemalu menjadi suatu masalah, kita perlu mengingat bahwa setiap anak terlahir dengan karakter dan temperamen yang berbeda-beda.

Tokoh pendidikan dan psikologi terkenal, Howard Gardner, menyatakan bahwa setiap orang tidak dapat disamakan. Cara yang dibutuhkan seseorang untuk mengeluarkan dan mengembangkan potensinya berbeda dari orang lain. Bahkan, menurut Gardner ada sembilan bentuk kecerdasan atau disebut juga multiple intelligences (kecerdasan majemuk).

Jadi, ketika anak tidak menunjukkan kemampuan mengagumkan dalam pelajaran atau kemampuan tertentu, bisa jadi dia memiliki kecerdasan yang lebih tinggi di aspek lain. Hal inilah yang mesti distimulasi dan dikembangkan oleh orang tua dan orang-orang di sekitar anak. Perlu diingat kembali bahwa makna kecerdasan tidak terbatas pada satu dua hal saja. Sebab pada kenyataannya, dalam diri anak terdapat banyak potensi yang bisa ia dikembangkan.

Setiap anak itu unik. Oleh karena itu, buatlah standar untuk dirinya sendiri dan jangan bandingkan dengan orang lain. Ketika Anda mulai lupa akan hal tersebut, coba baca kembali kutipan di awal tulisan ini.

Surat Tanpa Alamat

“Perjalanan selalu menyisakan kenangan. Jika beruntung, kita akan mendapat pelajaran di perjalanan; yang lalu disimpan dan mungkin dibagikan. Hidup telah banyak memberi; dari bagaimana kesulitan lalu datang kemudahan, pun sebaliknya.”

Pendampingan Sahabat Kapas pada Sabtu itu saya yakini akan berjalan seperti biasanya. Saya dan rombongan Kapas bergegas ke stasiun di pagi buta untuk mengejar kereta Prameks yang akan mengantarkan kami ke Kutoarjo. Seperti biasa pula, kami mengisi energi terlebih dahulu di warung langganan samping stasiun untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke LPKA Kutoarjo dengan menumpang angkutan kota. 

Gerbang kayu LPKA pun menyambut kami seperti biasanya. Di balik gerbang, kami merasakan energi mereka mengalir penuh semangat dan rindu yang terselip setelah dua minggu tak berjumpa. Setelah melewati pos pemeriksaan, sayup terdengar suara mereka memanggil nama-nama kami dengan penuh semangat; kangen katanya. 

Iting yang Menyimpan Rahasia 

Pendampingan Sabtu itu berjalan sesuai yang kami rencanakan. Selepas pendampingan, kami membagi anak-anak LPKA menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang baru masuk LPKA dan belum mendapatkan pendampingan dari Sahabat Kapas sebelumnya. Bagi mereka, kami memberikan lembar Iting untuk diisi. Lembaran tersebut memuat data dan informasi diri anak yang akan dimiliki Sahabat Kapas. Kami menggunakannya untuk memantau perkembangan anak dan sifatnya sangat rahasia. 

Di kelompok kedua, kami memfasilitasi mereka yang ingin mengabadikan satu fragmen dalam hidupnya di LPKA menggunakan kamera yang dibawa rombongan. Hasil jepretan mereka akan diarsipkan oleh Kapas dan tidak akan disebarluaskan secara sembarangan. Mereka pun dapat meminta hasil cetak fotonya untuk disimpan. Kami selalu memastikan hanya membagikan hasil cetak foto kepada yang bersangkutan, karena kami percaya mereka amat istimewa. 

“Aku sehat, bapak sama mas gimana?”

Pada kelompok ketiga, kami menemani anak-anak yang ingin menitipkan pesan kepada keluarga, pacar, atau barangkali teman-teman mereka di luar LPKA. Kami dengan senang hati akan menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada penerimanya. 

Salah satu anak, datang menghampiri saya. “Mbak, aku ingin titip pesan,” ucapnya seperti anak lain.  

“Ya silakan… Ini kertasnya, ditulis saja, ya,” jawab saya. 

“Tapi aku enggak bisa nulis, Mbak.”

“Oh, yaudah tak tuliskan saja bagaimana. Isi suratnya mau gimana?”

“Pak, aku kangen. 
Bapak kapan bisa jenguk aku? 
Aku sehat, bapak sama mas gimana?”

“Sudah? Ini mau dikirim ke mana?”

“Ke bapakku, Mbak. Tapi aku nggak punya nomornya.”

“Oalah, bapak punya facebook enggak?”

“Enggak punya, Mbak.”

“Bapak posisinya di mana sekarang?”

“Bapak di penjara, Mbak.”

Hening sejenak. “Oh ya sudah, kalau begitu dikirimkan ke masmu saja, ya. Kamu punya nomor masmu atau facebook-nya enggak?”

“Mas juga di penjara, Mbak. Tapi aku enggak tahu di mana, tolong cariin ya, Mbak.”

Berpura-pura memeriksa kembali pesan yang ia sampaikan tadi adalah cara saya menghindari binar harapan di matanya. Sebelum berlalu, ia kembali berpesan, “Mbak, aku titip pesan itu buat bapakku, ya.” 

Ruang aula LPKA mendadak sendu dan dingin. Hari itu rupanya tak berlalu seperti Sabtu biasanya.

Tak Sekadar Pesan Sederhana 

Bagaimana surat akan sampai pada penerimanya jika tak memiliki alamat? 

Jangan-jangan benar bahwa hidup adalah hukuman bagi yang hidup. Hukuman dalam bentuk-bentuk rasa bersalah yang menghantui tapi terlalu pengecut untuk mati. Perasaan bersalah karena tak dapat mengirim surat terasa menyakitkan. Pun terlalu sulit menemukan alamat yang abu-abu dan terlalu pedih menyampaikan kebenaran.

Barangkali pesan itu terbaca sebagai hal yang biasa dan tak bernilai apa-apa. Tetapi, saya percaya bagi mereka pesan itu amat bermakna. Banyak orang berpikir bahwa LPKA adalah tempat yang tidak buruk-buruk amat—terlalu berat mengatakan menyenangkan—karena masih banyak temannya dan masih bisa bersekolah. Meski begitu ramai, tapi tempat itu barangkali adalah keramaian dari bisik-bisik kesenduan, kerinduan, bahkan penyesalan. 

Barangkali surat itu adalah penyembuhan untuk mereka. Melabuhkan harapan dan berharap terbalas, tapi kalau pun tak terbalas dan pesan ditolak mereka sudah bersiap. Begitulah pesan yang sederhana bekerja. Tidak tajam menusuk tapi juga tidak dangkal untuk menyentuh perasaan.

Ingin ku menangis saat ku terpaku

Mengenangkan nasib diri yang tiada arti

Tommy J. Pisa dengan tembangnya Suratan seakan menjadi wakil atas ketidakberdayaan karena tak sanggup mengirim surat tanpa alamat tersebut. Hingga kini surat tersebut masih saya simpan dengan baik. Untuk menyudahi rasa bersalah, pesan surat itu saya kirim dengan doa dan harapan setulus hati agar sampai pada pemiliknya.

Membawa Semangat Sahabat Kapas di Mana pun Berada

Sudah lebih dari 3 tahun saya berhenti menjadi relawan reguler Sahabat Kapas. Sebuah keputusan yang harus saya ambil karena diterima menjadi abdi negara dan ditempatkan di luar wilayah Soloraya. Empat tahun rutin berkegiatan bersama Sahabat Kapas ternyata membuat saya berubah dalam banyak hal. Sesuatu yang baru saya sadari belakangan.

Terbiasa duduk bersama, membicarakan banyak hal bersama tim Sahabat Kapas membuat saya selalu merindukan ruang diskusi di berbagai kesempatan. Kebiasaan kecil yang ternyata menjadi amat berharga karena tidak semua komunitas mampu memberi kesempatan bertukar pikiran.

Semangat Memberi dan Berbagi 

Sahabat Kapas menjadi tempat saya belajar banyak hal. Saya yang dulu lebih memilih diam dan menyimpan gagasan liar untuk diri sendiri, berproses menjadi orang yang nyaman berbicara di depan umum. Saya yang selama seperempat abad nyaris tidak pernah terlibat kegiatan sosial, akhirnya sangat menikmati ketika mampu melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, khususnya anak-anak dampingan Sahabat Kapas.

Semangat memberi dan berbagi yang ditumbuhkan Sahabat Kapas saya usahakan untuk terus ada di mana pun saya berada. Meskipun tidak lagi menjadi bagian inti Sahabat Kapas, saya beruntung memiliki kesempatan menjadi relawan khusus yang masih diberi kepercayaan bergerak untuk anak-anak di balik jeruji besi

Melakukan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan terhadap anak-anak yang berkonflik dengan hukum menjadi bagian penting tugas pekerjaan saya saat ini. Bukan tanpa alasan, saya yang sebelumnya selalu menolak menjadi abdi negara akhirnya mau mencoba mengikuti seleksi untuk jabatan pembimbing kemasyarakatan. Jabatan yang tidak pernah saya tahu ada sebelum menjadi relawan Sahabat Kapas. Jabatan yang sedikit banyak ikut menentukan nasib anak-anak yang berkonflik dengan hukum. 

Pemahaman bahwa penjara adalah pilihan terakhir bagi anak menjadi dasar untuk saya memberikan rekomendasi kepada anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Pemahaman berharga yang saya dapat dari bergabung dengan Sahabat Kapas.

Sahabat Kapas telah menjadi referensi terbaik saya dalam melihat permasalahan anak yang berkonflik dengan hukum.

Tantangan yang Kami Temui

Dulu tidak hanya sekali saya dan beberapa teman di Sahabat Kapas meragukan pendampingan yang telah kami lakukan. Apakah kami telah melakukan hal yang benar? Kenapa masih saja belum ada perubahan dalam sikap dan perilaku anak dampingan? Tentu saja tidak semua pendampingan berhasil. Seringnya justru banyak kendala dan tantangan yang kami hadapi.

Ada anak yang kami harapkan mampu mencapai harapannya untuk kuliah ternyata menjadi korban penipuan karena masih bergaul dengan mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang dikenalnya di lapas. Selain itu, ada anak yang masih saja belum mampu menghentikan kebiasaannya mengonsumsi minuman beralkohol padahal dukungan orang tua kami nilai sudah cukup untuk membuatnya memperbaiki perilaku. Ada pula anak yang harus merasakan penolakan masyarakat karena telah beberapa kali melakukan tindak pidana sehingga tidak mendapatkan hak integrasinya. 

Berbagai kejadian yang kami hadapi akhirnya memaksa kami untuk terus berpikir dan mencari solusi, berjejaring, membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang memiliki kewajiban maupun kepedulian terhadap nasib anak-anak dampingan kami.

Tidak jarang kami harus mengatur emosi ketika berhadapan dengan beberapa orang yang masih saja mengedepankan ego-sektoral. Mereka yang masih melihat siapa dan bukan apa informasi yang disampaikan. Namun, kami tidak pernah membiarkan mereka mengusik tujuan kami: mencari solusi terbaik bagi anak-anak dampingan dengan memberi sebanyak mungkin pilihan.

Febi Dwi S.

Relawan Khusus Sahabat Kapas


Aku dan Miras: Seteguk Nikmat vs. Sebaper Curhat

Gonjang ganjing terkait Perpres investasi miras (yang akhirnya dicabut oleh Presiden Jokowi) mengingatkan saya pada obrolan ngalor ngidul dengan anak-anak yang pernah saya dampingi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Banyak di antara mereka mengaku tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan terjadi karena efek miras. Mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir panjang dan merasa jauh lebih berani melakukan kekerasan saat tersulut amarah.

Percakapan dengan para remaja ini selalu menjadi highlight proses saya mendampingi mereka. Saat istirahat kegiatan, di sela-sela permainan, atau saat duduk di depan kelas, saya bisa mendengarkan cerita mereka berjam-jam. Tidak ada yang membuat lebih bahagia daripada mereka yang percaya pada saya sehingga bisa bercerita dengan santai. 

Banyak yang mereka bagi, tentang enaknya ciu yang dicampur Ale-Ale, mudahnya membeli miras oplosan, atau bahagianya mereka karena bisa melupakan masalah dengan sebotol bir murahan meski hanya untuk sementara.

Sebenarnya, para remaja ini sadar betul jika miras bisa  mengakibatkan kecanduan dan merusak kesehatan. Namun, risiko-risiko itu serasa minor dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka dapatkan: menjadi bagian dari kelompok pertemanan, menghilangkan beban pikiran, hingga meningkatnya kepercayaan diri dan keberanian.

Seorang anak pernah bercerita bahwa miras membuatnya lebih ‘berani’ saat chatting dengan teman perempuannya. Jika tidak minum, dia tidak punya nyali untuk flirting atau sekedar membuat percakapan lebih mengasyikkan.

Anak lainnya berujar jika ayahnya sering berbagi miras dengannya. Dia bebas menenggak minuman beralkohol itu kapanpun dia mau. Banyak pula yang mengaku tak kuasa menolak ajakan kawannya untuk meneguk ciu dari botol bekas Aqua saat nongkrong di alun-alun kota.

Kelindan Miras dan Remaja

Masalah miras dan remaja ini memang njlimet dan tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Bukan hanya di Indonesia, banyak negara maju yang juga kesulitan menangani kompleksitas isu remaja, miras, dan dampaknya di masyarakat.  Meskipun demikian, ternyata ada loh negara yang berhasil dengan gemilang menurunkan angka konsumsi alkohol dan narkoba pada remaja!

Pada tahun 2018, World Economy Forum menurunkan sebuah artikel panjang tentang bagaimana Islandia berhasil menurunkan angka remaja yang mengonsumsi alkohol dan narkoba. Di negara Nordik, tren remaja mengonsumsi miras memang cenderung turun. Namun, Islandia mencetak statistik mengagumkan dalam mengubah perilaku remaja dalam mengonsumsi miras. 

Berangkat dari hasil riset tentang perilaku keseharian remaja, Pemerintah Islandia kemudian merumuskan rencana nasional yang dikenal dengan istilah Youth in Iceland. Pada intinya, pemerintah berinvestasi pada program penguatan orang tua dan sekolah, penyediaan fasilitas olah raga dan kesenian gratis, serta pemberlakuan larangan keluar malam. Voila! Angka konsumsi miras di remaja turun drastis dan partisipasi mereka dalam kegiatan olah raga dan seni naik pesat.

Apakah strategi ini bisa diterapkan di Indonesia?


Sebagai jawaban, ada kutipan sarkas di twitter yang mungkin cukup mewakili:

Warga Indonesia itu mau antre dan buang sampah pada tempatnya saja sudah bagus. 

Netizen Indonesia

Rasa-rasanya mimpi replikasi pendekatan di Islandia ke konteks Indonesia tampak hampir mustahil. Paling tidak, bukan dalam waktu dekat. Selain rasio jumlah remaja yang sangat jomplang, warga dan pemerintah Indonesia masih jauh dari kata siap. Seperti yang kita tahu bersama, semua pihak inginnya hasil bagus, tapi hanya sibuk menuntut, susah sekali untuk nurut dan runut. 

Mau ndakik-ndakik meniru Islandia? Mustahil wa mustahila.

Kenyataan ini membuat saya jengkel. Pikiran saya sering mentok. Ketika mendengarkan curhatan mereka, otomatis saya memikirkan alternatif apa yang bisa saya tawarkan agar mereka bisa beralih dari kebiasan mengonsumi miras. Sayangnya, semua opsi tampak tidak doable.

Mau menyarankan agar aktif di kegiatan seni dan olahraga, sarana dan prasarananya tidak tersedia. Menyodorkan ide untuk mengganti lingkaran pertemanan, tidak banyak yang pede dengan riwayat hukum mereka. Ingin  menyarankan supaya lebih aktif berkegiatan dengan keluarga, lah ini kan mereka banyak masalahnya malahan dengan keluarga. Nah.

Curhat Pelipur Lara

Sebagai kakak pendamping, jalan ninja yang bisa saya tempuh adalah meminjamkan telinga untuk mendengar curhat mereka. Sambil sesekali saya memberi tips agar mereka lebih percaya diri saat pedekate dengan gebetan mereka tentunya.

Saya teringat ketika suatu sore ada pesan pendek dari adik dampingan masuk di ponsel saya.

 “Mbak, aku mumet, pengen ngobrol. Ketemuan yo, gak penak lek lewat hp”

Esok harinya kami saling berbagi curcol panjang dan lama. Dia yang masih belum tahu potensi diri dan keinginannya apa, sementara saya yang masih lajang meskipun usia sudah cukup untuk berumah tangga. Dengan jujur dia mengaku bahwa dia takut jika tidak kuat dengan beban pikirannya, dia akan lari ke obat dan miras. Dari situ, dia memutuskan untuk curhat ke saya.

Maknyes. Saya baper. Berkata saya dalam hati, jika miras masih gampang ditemukan, setidaknya saya lebih gampang diajak bercanda dan bisa mentraktir makan. Dengan sepiring lontong tahu di warung dekat taman kota, saya senang percakapan hangat di Minggu pagi itu bisa menggantikan nikmatnya seteguk minuman setan dalam melipur laranya.

Artikel ini adalah bagian dari campaign “Semua bisa dibicarakan #tanpakekerasan”, hasil kerja sama antara Sahabat Kapas dan Plain Movement, kunjungi pula https://plainmovement.id/

Para Penyelinap Jeriji Bui

 

Di pojok ruangan aula LPKA Kutoarjo, tampak boks plastik berukuran tidak terlalu besar. Dari luar, samar-samar bisa dilihat bahwa isinya tak terlalu penuh. Mungkin hanya separuhnya, bisa jadi lebih sedikit.

Beberapa orang yang berada di sekitarnya mungkin tidak akan tahu apa isi boks tersebut. Kecuali mereka mau berpayah membuka tutupnya dan meluangkan waktu untuk melongok sebentar ke dalam boks. Malah, bisa jadi, karena tak pernah disentuh, di atas boks seringkali dijejali beragam benda. Membuatnya semakin terhimpit dan tak terlihat.

Begitulah kadang kondisi boks-boks plastik wadah buku yang sengaja kami tinggal di LPKA, rutan, dan lapas. Buku-buku yang kami tinggal—agar anak di lapas leluasa meminjam dan tertarik meluangkan waktu untuk membaca—butuh waktu lebih lama untuk menemui pembacanya.

Tak selalu berhasil memang, seringkali anak-anak bilang bahwa bukunya tak menarik, membosankan, atau paling sering mereka ogah membaca karena rasa malas kadung menggelayut. Meski demikian, kami tak gentar terus membawa buku-buku baru. Hampir setiap dua minggu sekali, ketika kami berkunjung ke lapas, buku-buku kami ganti dengan judul yang baru. Memutarnya dari satu lapas ke lapas lain. Karenanya, program ini kami beri nama Buku Muter (berputar).

 

Mulanya Penuh Kendala
Putaran buku Kapas tak selalu berjalan mulus. Mulanya, ketika kami membawa buku-buku bacaan ke lapas, para petugas berkeras agar buku-buku dibawa kembali, “Jangan ditinggal, nanti hilang,” kira-kira begitu ucap mereka khawatir. Para petugas hanya tak bisa menjamin bahwa buku-buku yang kami bawa akan tetap utuh, cemas bukunya akan rusak, tak terawat, bahkan raib tak berjejak. Seperti yang sudah-sudah mungkin terjadi di lapas.

Kami tak bisa menyalahkan para petugas atas hal tersebut. Justru kami berterima kasih atas perhatian yang diberikan, tapi tekad kami bulat, buku tidak kami bawa hanya untuk dibawa kembali pulang. Dari awal kami sudah meniatkan diri, buku-buku akan kami tinggal agar anak binaan bisa mendapat alternatif kegiatan dan memiliki akses terhadap buku bacaan.

 

Sesudahnya, dengan beragam cara kami yakinkan para petugas bahwa ketika anak-anak diberi kepercayaan, merawat buku misalnya, mereka bisa bertanggung jawab. Kami berikan tanggung jawab ke anak-anak untuk merawat dan menjaga buku-buku tersebut. Ada yang bertugas mencatat peminjaman, menagih pengembalian, merapikan buku-buku, dan sebagainya. Dengan itu, kami mengajarkan cara bertanggung jawab dan memberikan mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa diberi tanggung jawab.

Dan ya, tak semudah yang dibayangkan! Ada saja buku-buku yang halamannya robek, dipenuhi corat-coret, bahkan tak bisa dilacak keberadaannya. Kami sepenuhnya paham ini akan terjadi, dan yang kami lakukan adalah sekali lagi menaruh rasa percaya bahwa mereka adalah anak-anak yang bisa diberi tanggung jawab. Setelahnya, buku-buku yang raib kembali dengan sendirinya, buku tak lagi dipenuhi coretan, meski satu dua buku kumal dan koyak di beberapa halaman. Tapi, kami justru bahagia, artinya buku-buku tersebut tak lagi teronggok diam, namun perlahan berputar menemui para pembacanya. Justru, kami terharu, lambat laun dan dengan proses panjang, anak-anak mulai membaca buku-buku yang kami bawa. Setidaknya buku-buku tersebut bisa menemani mereka membunuh waktu.

 

Mengapa membaca
Hari-hari yang anak-anak di penjara jalani tak selalu berwarna. Terkadang, mereka bahkan hanya harus terus melakukan satu hal berulang-ulang. Selain dilanda kebosanan, anak juga pasti diserang kebingungan apa yang harus mereka lakukan untuk merintang-rintang waktu. Padahal, di usia remaja, anak harus terus mengembangkan kemampuan berimaji dan daya kreativitasnya. Anak-anak seharusnya terus mendapat asupan ilmu dan dukungan literasi.

Masa anak-anak dan remaja adalah saat kondisi kognitif serta memori berkembang. Dengan menyediakan akses bacaan, kami berharap dapat menanamkan kebiasaan baru pada anak-anak sehingga nantinya mereka bisa meneruskan kebiasaan tersebut di luar lapas. Syukur-syukur mereka bisa jatuh cinta dengan buku dan menyebarkan virus membaca kepada orang lain. Semoga.

Dengan membaca buku, kami harap anak-anak terhibur, bisa mendapat inspirasi, dan berpikiran terbuka terhadap berbagai hal. Kami tak bisa terus menemani mereka, aktivitas pendampingan pun hanya kami lakukan dengan waktu terbatas. Tapi, kami harap buku-buku yang ada dapat mewakili kami menemani hari mereka. Meski harus dibatasi dinding lapas, kami harap mereka bisa ‘berkelana kemana saja’ dengan membaca buku. Kami ingat bahwa Bung Hatta pernah berujar, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

 

Terus Berputar

Kami kini terus merentas jalan ini, terus menularkan virus membaca sambil berharap dukungan dari berbagai pihak. Sejak tahun 2014, saat Buku Muter secara resmi terbentuk, begitu banyak dukungan yang diberikan, baik dari dalam maupun luar lapas. Dukungan penuh kepada program literasi Kapas diberikan salah satunya oleh Eko Bekti Susanto, yang kala itu dengan gigih memperjuangkan berdirinya perpustakaan di Lapas Kelas IIB Klaten.

 

Dengan semangat literasi, Pak Eko yang saat itu menjabat sebagai Kalapas menembusi berbagai pihak untuk mendukung gagasannya mendirikan perpustakaan di dalam lapas. Gayung bersambut, gagasan Pak Eko mendapat respons positif, donasi berupa buku pun didapat dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat umum. Kini, para warga binaan di Lapas Kelas IIB Klaten dapat mengisi kegiatannya dengan membaca buku di perpustakaan.

 

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM juga memberi sinyal positif mengenai gerakan literasi dari dalam penjara. Kemenkumham tengah menggodok program remisi literasi yang mengadaptasi aturan Brazil tentang pemberian insentif kepada narapidana yang gemar membaca buku. Di Brazil, bagi mereka yang berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku akan mendapatkan potongan masa hukuman 4 hari. Dalam setahun, apabila bisa menyelesaikan 12 buku, mereka bisa bebas 48 hari lebih cepat dari masa tahanan.

Uniknya, sistem yang mulai diberlakukan tahun 2012 ini tak sekadar meminta narapidana membaca, tapi juga menulis ulasan buku yang dibaca. Para petugas akan menilai tulisan tersebut untuk memutuskan pengurangan masa hukuman. Program yang diberi tajuk “Redemption Through Reading” tersebut ingin narapidana tak hanya menghabiskan waktu merenungi kesalahannya, melainkan juga membawa kebiasaan baik saat menghirup udara bebas nanti. Peter Murphy yang menulis untuk Reuters.com mewawancarai Andre Kehdi, pengacara yang mengepalai proyek sumbangan buku untuk penjara di Brazil. Kehdi mengatakan, “(Dengan membaca) seseorang akan meninggalkan penjara dengan pencerahan dan pandangan lebih luas terhadap dunia.”

Sistem yang diterapkan Brazil tersebut menjadi cara kreatif menularkan virus membaca, terutama bagi mereka yang terpaksa tinggal di dalam lapas dengan aktivitas yang terbatas. Usaha menumbuhkan kegemaran membaca tersebut tentu membutuhkan proses panjang dan berliku. Proses yang berjalan juga mungkin berputar-putar, seperti buku-buku yang kami putarkan di setiap perjumpaan dengan anak-anak di lapas. Namun, sekali lagi, kami percaya hal baik akan selalu menemui jalannya. Seperti buku-buku kami yang akhirnya bisa menyelinap di antara jeriji bui dan di hati anak-anak.

Bukankah Dia Anak yang Kuat?

Bella Melindha Hadi

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas

 

Hidup sebagai anak rantau menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku merasa memiliki kemandirian di atas teman-teman lain yang hingga saat ini masih tinggal bersama orang tuanya. Kemandirian dan kepercayaan yang ditanamkan oleh kedua orang tuaku membuatku merasa kehadiran mereka tidak selalu kubutuhkan.

Ternyata, banyak teman tak merasakan “kenikmatan” yang sama ketika menjadi anak rantau. Bahkan, banyak di antara mereka yang seringkali memilih pulang ke rumah apabila ada kesempatan.  “Ah manja kamu! Cuma pusing sampai ingin pulang ke rumah,” ejekku pada salah satu teman kosku dulu.  Padahal hampir tiap minggu Continue reading “Bukankah Dia Anak yang Kuat?”

Menabur Benih Cinta untuk Anak-Anak LPKA

Oleh Denis Kusuma

(Sekretaris dan Keuangan Sahabat Kapas)

 

Ketika Anda memberi, entah perhatian, waktu, tenaga, uang pada orang yang membutuhkan, Anda sedang menabur benih cinta, dan cinta tak pernah gagal.

(Rum Martani)

 

Kutipan cantik dari buku Karena Hidup Sungguh Berharga karya Rum Martani tersebut menjadi bekal aktivitas saya hari ini. Mengawali aktivitas pukul empat dini hari, setelah melaksanakan doa pagi dan bersiap-siap, saya bergegas menuju titik kumpul keberangkatan di Stasiun Balapan Solo. Pagi ini saya bersama relawan Sahabat Kapas lainnya akan melakukan perjalanan menuju Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kami harus menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan kereta dan dilanjutkan mengendarai angkutan umum untuk sampai tujuan. Continue reading “Menabur Benih Cinta untuk Anak-Anak LPKA”

Masih Ada Pelangi di Balik Jeruji

Oleh Anggi Nur Cahya Trivi

(Relawan Sahabat Kapas/Mahasiswa Psikologi UNS)

(Valeria Boltneva/pexels.com)

Siang itu, suasana Kantor Sahabat Kapas tiba-tiba berubah semarak dan ceria. Salah seorang relawan Kapas, Rahayu, membagikan kabar gembira bahwa salah seorang anak didik lembaga pemasyarakatan (andikpas) yang kami dampingi telah bebas. “Ax sudah keluar loh… sekarang dia jadi guru mengaji di rumahnya!” seru Rahayu yang ditimpali dengan tepuk tangan dan tawa gembira dari seluruh relawan yang hadir.

Rasa haru dan gembira selalu merayapi hati kami kala mendengar andikpas yang kami dampingi dapat menghirup udara bebas, termasuk Ax. Ia adalah andikpas Wonogiri yang rajin mengikuti kegiatan pendampingan oleh Sahabat Kapas. Dari sekian banyak andikpas, perbincangan dengan Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Respons yang Berbeda

Perjumpaan pertama saya dengan Ax terjadi pada 13 Maret 2018. Kala itu, saya kebagian tugas untuk melakukan kegiatan pendampingan di Lapas Wonogiri. Saat menyapa dan memperkenalkan diri, respons andikpas sangat pasif dan cenderung menutup diri. Saya sama sekali tidak terkejut dengan respons “dingin” mereka. Bahkan, sejak jauh-jauh hari, Mbak Dian Sasmita sudah mengingatkan bahwa anak-anak kadang akan bersikap sangat tertutup terhadap orang yang baru dikenalnya. Saya ingat Mbak Dian pernah menyampaikan, “Respons tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang umum andikpas lakukan saat pertama kali bertemu. Ini dikarenakan kondisi khusus yang mereka alami, agar tidak “dimanfaatkan” oleh orang asing.” Oleh karena itu, saya tetap bersikap welcome dan berusaha menempatkan diri sebagai observer, sementara pendamping lain melakukan kegiatan.

Saat kegiatan tengah berlangsung sekira 50 menit, ada seorang andikpas yang meminta izin bergabung mengikuti kegiatan. Melihat wajah baru, saya pun memperkenalkan diri kembali. Tak dinyana, saya mendapat respons hangat dan sebuah senyuman dari andikpas tersebut. Ya, dialah Ax, seorang andikpas yang merespons saya dengan cukup berbeda. Bahkan ia menjawab dengan antusias ketika saya bertanya apakah Ax masih bersekolah. Tanpa malu-malu, ia menjawab masih duduk di bangku kelas IX salah satu SMP negeri di Wonogiri.

Ia juga mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya setelah bebas dari lembaga pemasyarakatan nantinya. Sikap antusiasme Ax meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Ax sebelumnya memohon maaf karena terpaksa datang terlambat kegiatan pendampingan karena harus menyelesaikan tugas sebagai tahanan pendamping (tamping) terlebih dahulu. Tamping adalah sebuah tugas yang disematkan bagi narapidana yang memiliki penilaian baik. Tugas tamping adalah membantu petugas dalam aktivitas sehari-hari di dalam lapas, misalnya mengerjakan tugas dapur, kegiatan ibadah, dan kegiatan lainnya.

Tetap Belajar agar Lulus Ujian

Kali kedua melakukan pendampingan di Lapas Wonogiri, para andikpas sudah cukup terbuka dengan saya. Mereka mulai banyak bercerita mengenai keluarga dan kehidupan yang mereka jalani sebelum terpaksa mendekam di dalam lapas. Sayangnya, tidak semua andikpas mengikuti kegiatan pendampingan saat itu. Salah seorang yang absen adalah Ax yang ternyata tengah mengikuti ujian nasional di SMP tempatnya bersekolah dahulu.

Rasa penasaran menghinggapi perasaan saya, bagaimana bisa ia mempersiapkan mengikuti ujian nasional dalam keadaan yang serba terbatas? Rasa penasaran tersebut terjawab ketika pada kegiatan pendampingan berikutnya Ax datang mengikuti kegiatan Kapas. Saya pun dengan antusias menanyakan jalannya ujian nasional yang sempat ia ikuti tempo hari. Ax menceritakan bagaimana guru tempat ia bersekolah tetap membantunya belajar dengan membawakan buku pelajaran dan materi UNBK. Ia juga sempat bercerita mengenai kondisi di dalam sel saat Ax harus belajar sedangkan teman sekamarnya sedang bermain. Selain itu, Ax juga selalu menyempatkan belajar di sela-sela kesibukan sebagai tamping kantin lapas.

Tak Ingin Orang Tua Makin Kecewa

Semua usaha dan kerja keras tersebut Ax lakukan semata-mata karena ia sangat ingin lulus sekolah menengah pertama. Ia mengaku tidak ingin makin mengecewakan kedua orang tuanya. Selain ingin lulus sekolah, Ax juga terus berusaha untuk memperbaiki diri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan beribadah di bulan Ramadan. Di kala teman-temannya membatalkan puasa Ramadan karena berbagai godaan, Ax berusaha untuk menjalankan ibadah puasa penuh dan sungguh-sungguh. Ia banyak meluangkan waktu untuk membaca Alquran sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Sebenarnya, sama seperti andikpas lain, Ax menyadari bahwa menjalankan ibadah puasa di lapas tidak benar-benar bisa dijalankan dengan khusyuk. Ada banyak godaan yang merintangi ibadah puasa mereka, misalnya banyak napi dewasa yang kedapatan merokok, harumnya masakan kantin, dan waktu berbuka yang dirasa sangat lama karena tidak ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selagi menunggu azan magrib. Namun, saat ditanya apakah ia tergoda untuk membatalkan puasa, Ax dengan tegas menjawab tidak.

“Perbuatanku dulu mengakibatkan aku berada dan berkumpul dengan orang-orang yang kurang baik Mbak. Aku enggak ingin mengecewakan orang tuaku lagi dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk teman-teman di sini,” ujar Ax dengan tegas.

Menurut saya, Ax mengajarkan kita banyak hal. Ia berusaha tetap membuka diri dengan orang yang baru dikenalnya, ia bahkan berusaha bersikap positif dan ramah. Di tengah segala keterbatasan akses belajar, ia tetap berusaha mempersiapkan ujian nasional dengan sebaik-baiknya. Ia bahkan bertekad lulus sekolah dan tidak menambah kekecewaan orang tuanya akan kondisinya. Keinginan kuat dan semangat yang ditunjukkan Ax membuat saya bergumam dalam perjalanan pulang sore itu, “Ya, masih ada pelangi di balik jeruji.”

Perjalanan Hari Ini

Deru mesin lokomotif dan peluit penjaga stasiun mulai terdengar di Stasiun Kutoarjo. Panasnya terik matahari di kota yang baru sekali kukunjungi ini terasa menembus sampai ke dalam tulang. Pikiranku siang ini melayang entah kemana, hal yang aku alami pagi ini benar-benar di luar batas logikaku.

Terdengar kembali panggilan untuk penumpang tujuan Solo untuk segera bersiap di jalur satu. Aku bergegas mendekati kereta yang sudah butut namun ditunggu banyak orang ini. Keadaan kereta yang masih kosong membuatku leluasa untuk memilih tempat duduk di pojok dekat toilet.

Perlahan kereta mulai meninggalkan Stasiun Kutoarjo, kembali pikiranku melayang ke kejadian yang aku alami. Pengalaman pertama pendampingan di sebuah tempat bernama Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Kegiatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Sungguh tak pernah kubayangkan, hari ini aku masuk dan mendengar banyak cerita dari mereka.

Siapa mereka? Mereka adalah teman-teman baruku yang menjadikanku seakan gila hari ini. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo. Mereka telah sukses membuatku kagum, sehingga kekaguman itu membuatku menjadi seperti orang gila yang terus memikirkan kegiatan tadi. Mereka tak segan bermain dengan penuh keceriaan tanpa ada batas denganku, orang baru yang pastilah asing bagi mereka.

Tak terasa perjalananku sudah memasuki kota kesenian Yogyakarta, terdengar pengumuman bahwa kereta telah sampai di Stasiun Tugu. Bertambahnya penumpang membuat lamunanku dipaksa buyar seketika.

Ketika kereta melewati perlintasan dan membunyikan klakson, tiba-tiba aku teringat pada salah satu anak di LPKA Kutoarjo yang menitipkan kertas kepadaku. Penasaran, kubuka satu lembar kertas yang dilipat dengan rumit. Seperti sengaja agar tidak sembarang orang bisa membukanya. Seperti disambar petir di siang hari, aku membaca beberapa larik puisi di sana.

“Maafkan Aku”

Tuhan, maafkan aku yang tak pernah menjalankan kewajibanku

Ayah dan Ibu, maafkan aku yang tak pernah mendengarkan perkataanmu

Semua ini terjadi karena kesalahanku

Maafkan aku.

Aku mengulang beberapa kali membaca puisi sederhana yang sangat mengena itu, hingga air mataku benar-benar menetes. Aku menangis karena aku menginggat benar ceritanya. Teman baruku ini sangat merindukan ayah ibunya. Ayahnya telah lama pergi. Hanya ada ibunya yang tinggal seorang diri di rumah. Di sebuah kota dengan jarak ratusan kilometer dari Kutoarjo.

Membaca puisi ini aku jadi merasakan apa yang dirasakannya di LPKA. Membaca puisi ini aku teringat banyaknya kesalahanku kepada orang tuaku dan Tuhan. Mungkin lewat teman baruku ini Tuhan memberikan banyak teguran untukku.

“Kereta jurusan Solo akan segera berangkat”

Wah, ternyata sudah hampir meninggalkan Klaten. Aku kembali tersadar. Tak berhenti merasa bersyukur atas pengalaman hari ini. Semoga ada lain waktu untukku bertemu mereka lagi. Anak-anak remaja yang tengah berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya.

Ditulis oleh Haidar Fikri (Relawan Sahabat Kapas).