Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender

Kegiatan konseling kelompok remaja LPKA bersama Sahabat Kapas

Banyak sekolah yang sudah menyandang predikat sekolah ramah anak. Lalu bagaimana dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA)? Rupanya pemerintah sedang berlomba untuk menjadikan lembaga atau institusi layanan anak sebagai tempat yang ramah anak. Mulai dari fasilitas umum, taman, sekolah hingga fasilitas kesehatan. Semua tempat yang bisa kita temukan anak-anak di sana, akan disulap menjadi tempat ramah anak. Continue reading “Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender”

Kunci Menjadikan Anak Cerdas dan Percaya Diri

Kunci Menjadikan Anak Cerdas dan Percaya Diri

Oleh Kelvin Rivalna Akbar*

Setiap anak dilahirkan dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Rasa ingin tahu tersebut yang mendorong anak untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal di sekitarnya. Sayangnya, banyak orang tua yang kewalahan ketika menghadapi rasa ingin tahu anaknya. Bahkan, tak jarang orang tua sebal dan menyuruh anaknya untuk tidak banyak bertanya macam-macam. Respons orang tua yang demikian akan memunculkan rasa takut dan rasa tidak percaya diri pada anak. Acapkali orang tua enggan menjawab rasa penasaran anak sehingga rasa ingin tahunya terpatahkan. Hal ini akan memunculkan rasa takut dan kurang percaya diri untuk bertanya lagi.

Berikan Perhatian

Respons yang tidak menyenangkan membuat harapan orang tua agar anak belajar dan menjadi pintar secara tidak langsung terpatahkan oleh mereka sendiri. Terkadang orang tua merasa terlalu lelah setelah bekerja dan memilih istirahat dengan bermain smartphone daripada bermain dengan anak-anak. Anak kenyang merupakan indikator orang tua bahwa dia sudah menyelesaikan tanggung jawabnya. Padahal, seharusnya ketika orang tua pulang yang dilakukan adalah mencium sang anak dan menyapanya dengan memberi penghargaan.

Ajak Anak Bermain

Mengajak anak bermain merupakan salah satu fasilitas untuk berkembangnya pikiran anak. Kerena ilmuwan mengatakan bahwa bermain adalah belajar untuk anak. Dengan bermain, secara tidak langsung anak belajar apalagi bermain dengan orang tua. Orang tua akan lebih tahu mengenai anaknya dan menumbuhkan kelekatan dengan sang anak. Ketika anak bertanya, orang tua harus berusaha untuk memberikan penjelasan terbaik untuk anaknya. Penjelasan sebaiknya sesuai porsi anak-anak. Misal anak bertanya “kenapa kalau malam gelap” jawab saja “karena matahari sedang tidur, jadi digantikan dengan bulan yang tidak memiliki cahaya”.

Berikan Pujian dan Penghargaan

Memberikan pujian kepada anak atas usahanya juga dapat secara tidak langsung mengangkat harga diri anak. Sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Penghargaan yang dimaksud tidak dengan membelikan sepatu atau sesuatu yang berbentuk fisik. Cukup katakan kepada anak “Wah hebat, keren, kece, pintar, rajin, dst” akan meningkatkan kepercayaan diri sang anak sehingga anak berkembang menjadi anak yang positif. Katakan hal baik ketika anak melakukan hal baik dapat meningkatkan perilaku baik juga. Karena perubahan yang baik dan disertai pujian yang baik maka perilaku yang baik itu akan meningkat.

Self-acceptance: Mengapa Harus Menerima Diri Sendiri?

Oleh Novita Sari*

“Kenapa aku enggak bisa sesukses dia? Kenapa aku enggak sepintar dan sekeren dia? Kapan sih aku bisa punya apa-apa kaya dia? Kenapa dia lebih beruntung dari pada aku?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali berlalu-lalang di pikiran kita. Tidak harus semua, minimal salah satu pasti ada yang terlintas di pikiran kita. Pertanyaan itu akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam banyak hal daripada kita.

Dengan awalan sekadar pertanyaan “kenapa” lalu timbul rasa cemas, insecure, tidak percaya diri, malu, merasa gagal, dan tidak bernilai.  Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, menjadi orang yang ambisius atau berhenti di tempat. ­Orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri akan merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, hal ini yang akan menjadikan seseorang menjadi ambisius.

Agar kita tidak terjebak dalam rasa insecure, ada satu kemampuan yang bisa dikembangkan. Kemampuan tersebut adalah self-acceptance. Menurut Jersild, self-acceptance (penerimaan diri) merupakan keadaan di mana seseorang bersedia menerima dirinya dari segi fisik, sosial ekonomi, kelebihan, serta kekurangan yang ada pada dirinya.

Salah Kaprah Penerimaan Diri

Dengan menerima diri sendiri, kita akan mampu berdamai dengan kondisi dan apa yang ada pada diri kita, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Ada yang berpendapat bahwa penerimaan diri artinya kita tidak berkembang. Kita berhenti di tempat dan tidak mengusahakan perubahan dalam hidup. Pandangan ini jelas salah kaprah, karena dengan menerima diri sendiri kita akan tahu letak dari ketidakmampuan dan kekurangan kita sehingga kita bisa memperbaikinya.

Langkah awal sebelum kita mengubah sesuatu adalah sadar akan ketidaksempurnaan. Yakni, hal yang akan kita ubah adalah sesuatu yang perlu diubah. Kalau kita tidak sadar tentang hal apa yang akan kita perbaiki, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menerima kekurangan, kita tahu apa yang harus diperbaiki tanpa harus berkecil hati. Selaras dengan kutipan dari Carl Jung, “We Cannot Changes anything unless we Accept it” (Kita tidak dapat mengubah sesuatu tanpa kita menerimanya).

Setelah itu pertanyaan lain yang akan muncul adalah “bagaimana cara untuk menerima diri sendiri?” Seseorang bisa menerima dirinya sendiri dengan cara mengenal siapa dirinya dan menjawab pertanyaan who am i? Selanjutnya, kita juga harus memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Ketiga, kita perlu berdamai dengan kekurangan yang ada pada diri dan yang terakhir  adalah love your self atau cintailah dirimu sendiri.

Pelatihan Master Trainer Gender Transformative Approach (GTA)

Oleh Anindyanari Mukti Retnodewati*

 

Dua perwakilan Sahabat Kapas mengikuti Pelatihan Master GTA yang dilaksanakan oleh Rutgers WPF Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Februari 2020 dan bertempat di Hotel Novotel Solo. Gender Transformative Approach (GTA) ini senantiasa mengubah norma gender yang kaku serta ketidakseimbangan relasi kuasa yang selama ini tejadi dalam kehidupan masayarakat. Pelaksanaan GTA diaharapkan mampu meningkatkan Hak dan Kesehatan Seksual Reproduksi dan menurunkan kekerasan berbasis gender. Sebagai contoh, sebanyak 888 kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam triwulan ketiga pada tahun 2019 menurut Humas Pemerintah Jawa Tengah. Dengan banyaknya kasus tersebut, terlihat urgensi dalam pecegahan kekerasan berbasis gender di Indonesia ini.

 Pendekatan Berbasis HAM

Dalam melaksanakan pelatihan ini, Rutgers menggunakan pendekatan berbasis HAM (Human Rigths-Based Approach). Pendekatan ini dianggap sebagai suatu alat yang berguna untuk menegakkan hak-hak manusia khususnya perempuan dan anak perempuan yang dilanggar ketika kekerasan berbasis gender terjadi. Semua ras, agama, jenis kelamin, etnis, maupun latar beakang budaya mereka sebenarnya memiliki hak yang sama dan itu dibawa semenjak seseorang dilahirkan. Dengan begitu, hak asasi manusia tidak bisa dicabut oleh siapapun karena tidak dapat diambil maupun dilepaskan oleh orang lain.

Lalu apa hubungannya dengan GTA ini? Ini dilihat dari outcome yang diinginkan oleh Rutgers bahwa adanya kesetaraan gender serta seimbang dan terpenuhinya hak-hak seksual dan reproduksi. Agar pendekatan ini dapat berjalan maksimal, semua pemangku kewajiban perlu untuk diberikan pemahaman atau bekal untuk mempertahankan hak tersebut.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Kekerasan berbasis gender yang selama ini terjadi tidak lepas dari seseorang yang lebih merasa berkuasa dibandingkan yang lainnya. Menurut Rutgers, ada 3 bentuk kekuasaan yang berbeda. Pertama adalah kekuasaan yang terlihat. Kekuasaan yang terlihat ini mengacu pada seseorang atau institusi yang lebih kuat dan bisa memengaruhi pemikiran atau tindakan orang-orang yang ada di bawahnya. Konotasi yang diberikan pada kekuasaan ini cenderung negatif karena berbentuk seperti dominasi, pelecehan, penindasan pada orang lain, dan pemaksaan.

Bentuk kekuasaan kedua adalah kekuasaan tersembunyi yang sering digunakan oleh suatu pihak yang memiliki hak-hak istimewa untuk mempertahankannya. Kekuasaan ini biasanya digunakan dalam proses politik, tempat kerja, maupun komunitas. Kekuasaan ini dilaksanakan dengan menciptakan berbagai hambatan-hambatan kepada orang lain untuk berpartisipasi semisal tidak diizinkannya seseorang (dikarenakan usia, jenis kelamin, maupun status sosial tertentu) untuk bersuara dalam suatu keadaan yang seharusnya mereka memiliki hak untuk bersuara.

Yang terakhir adalah kekuasan yang tak terlihat. Kekerasan ini merupakan sebuah bentuk kekuasaan yang melekat pada diri seseorang dikarenakan norma, nilai, maupun agama, yang telah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Karena sudah melekat pada orang-orang, kekuasaan ini terbilang sulit untuk diatasi dan telah terjadi secara tidak sadar. Sebagai contoh, pada seorang wanita yang merasa harus patuh pada laki-laki karena ia telah meninternalisasi bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki meskipun secara finansial ia memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan laki-laki tersebut.

Pojok Baca Lapas Klaten, Favorit di Pagi Hari

Teng Teng Teng Teng

Lonceng berbunyi di pagi hari, di Lapas Klaten. Ini berarti ada kesempatan selama satu setengah jam untuk menikmati hawa segar di luar sel. Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari senam, olah raga pagi bernyanyi bersama, membersihkan lingkungan, duduk- duduk di bawah matahari pagi.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut,  berkunjung ke Sanggar Baca menjadi salah satu favorit di pagi hari. Beberapa rak dipenuhi buku-buku hasil donasi dari berbagai pihak seperti Perpustakaan Nasional, Kick Andy, Tupperware serta sumbangan dari rekan-rekan Mahasiswa.

Warga Binaan dapat meminjam buku atau membacanya di dalam Pojok Baca.

Buku menjadi jendela untuk melihat dunia luar
Buku menjadi jendela untuk melihat dunia luar

Aktivitas favorit 08.00-09.30 WIB, menyambangi Pojok Baca
Aktivitas favorit 08.00-09.30 WIB, menyambangi Pojok Baca

Lindungi Anak dengan Optimalisasi Fungsi Keluarga

Oleh Uthie Awamiroh*

Anak-anak dan balita yang sudah dapat mengoperasikan gawai sendiri menjadi pemandangan yang lumrah di masa sekarang. Hal ini tentu tidak terlepas dari perilaku orang-orang terdekat anak, misalnya para orang tua yang membiarkan anak-anak dengan bebas memainkan gawai tanpa pengawasan. Pembiaran ini bisa dikatakan sebagai dukungan tidak langsung yang sebenarnya sangat disayangkan. Anak-anak yang sedari dini sibuk dengan gawai bisa mengalami berbagai dampak buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Selain itu, anak-anak yang semestinya menikmati masa-masa bermain dan bereksplorasi di lingkungan sekitar, cenderung memilih berdiam diri di rumah dengan telepon pintar di tangan. Hal ini mengakibatkan proses sosialisasi anak terhadap lingkungan menjadi tidak maksimal.

Remaja bersosialisasi di Car Free Day Solo

Akses gawai yang mudah dan tanpa pengawasan mendukung adanya kebebasan anak dalam mengakses internet. Padahal, hal tersebut bisa berdampak negatif bagi anak-anak, terutama pada anak dalam keluarga yang mengalami disfungsi. Data yang dihimpun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sepanjang tahun 2017 terdapat 514 laporan kasus pornografi dan cybercrime yang masuk ke KPAI (netralnews.com). Ini tentu saja menjadi perhatian kita semua sebagai sebuah sistem sosial. Continue reading “Lindungi Anak dengan Optimalisasi Fungsi Keluarga”

Perundungan di Istitutsi Pendidikan Butuh Perhatian Serius

Oleh Tri Dyah Rastiti*

Ilustrasi Perundungan. Dokumentasi Sahabat Kapas.
Anak- anak menampilkan drama tentang perundungan yang terjadi di lingkungan sekitar

Tindakan perundungan (bullying) kini tak asing lagi di Indonesia. Perilaku negatif yang kian hari kian parah ini jumlahnya terus bertambah dan dapat kita temui dalam berbagai bentuk, di antaranya diskriminasi dan senioritas, di mana senior mengintimidasi juniornya secara fisik maupun nonfisik. Perilaku negatif yang dari waktu ke waktu menghantui anak-anak ini sayangnya belum mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah sejauh mana kita memahami tindakan perundungan?

Continue reading “Perundungan di Istitutsi Pendidikan Butuh Perhatian Serius”

Anak, Si Peniru Ulung

“Ketika kita berbohong di depan anak, maka kita telah mengajarkan kepada anak kita untuk menjadi pembohong. Ketika kita marah di depan anak, maka telah kita ajari anak kita untuk jadi pemarah.”

Kalimat itu sering saya dengar dari Pak Hadi Utomo, salah satu pejuang hak anak Indonesia, dalam berbagai acara bertema perlindungan anak. Kalimat Pak Hadi tersebut, secara jelas tergambar dalam sebuah video karya National Association for Prevention of Child Abuse and Neglect (NAPCAN) dan menjadi viral di Indonesia beberapa waktu lalu. Video berjudul Children see, children do tersebut menjadi teguran bagi orang dewasa di sekitar anak, orang tua khususnya, untuk bisa lebih bijaksana dalam berperilaku dan memilih kata-kata mereka di depan anak.

Anak meniru apa yang mereka lihat. Bobo doll experiment[1] yang dilakukan oleh Albert Bandura menunjukkan hal tersebut. Eksperimen yang dilakukan pada tahun 1961 dan 1965 tersebut menjadi bukti bahwa anak yang melihat orang dewasa melakukan perilaku agresif akan meniru perilaku agresif tersebut.

Mengobservasi, meniru/mengimitasi dan menjadikan orang dewasa di sekitar menjadi contoh/panutan adalah cara anak belajar tentang berbagai hal. Termasuk belajar berperilaku dan bersikap. Anak cenderung menjadikan orang yang mengasuhnya, idealnya orang tua, sebagai model/panutan. Oleh sebab itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua menjadi hal yang mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.

Pola asuh adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda termasuk anak agar dapat mengambil keputusan dan bertindak  sendiri, sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi berdiri dan bertanggung jawab sendiri.[2]

Tiga tipe pola asuh yang paling sering dibahas adalah pola asuh permisif, otoriter dan demokratis. Pola asuh permisif terlihat dari longgarnya aturan dan tidak adanya tuntutan dari orang tua terhadap anak. Tidak ada kedisiplinan dalam pola asuh ini. Orang tua cenderung menuruti kemauan anak. Orang tua dengan pola asuh ini akan menghasilkan anak yang cenderung impulsif, agresif dan tidak memiliki kontrol diri.

Sebaliknya, pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana orang tua menerapkan aturan yang ketat disertai ancaman dan hukuman. Selain itu, orang tua dengan pola asuh otoriter menerapkan tuntutan yang tinggi terhadap anak. Anak menjadi menarik diri, takut dan tidak memiliki tujuan ketika tumbuh dan berkembang dengan pola asuh ini.

Pola asuh demokratis dipandang sebagai pola asuh yang paling ideal. Orang tua menerapkan aturan dan menentukan tuntutan yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak. Pola asuh ini akan menghasilkan anak yang memiliki kepercayaan diri dan kontrol diri, bersahabat dengan lingkungan dan bahagia.

Sumber: https://www.goodreads.com/book/show/28916420-parenthink

Indonesia sebenarnya memiliki pola asuh yang lebih sesuai untuk diterapkan oleh warganya. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Republik Indonesia, telah merumuskan semboyan yang selama ini digunakan dalam pendidikan di Indonesia : “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ternyata, semboyan ini cocok untuk diterapkan dalam pola asuh orang tua terhadap anak. Pengetahuan mengenai pola asuh ala Indonesia ini baru saya ketahui setelah membaca buku ParenThink karya Mona Ratuliu.[3]

Pada fase awal kehidupan anak, yaitu 0-5 tahun, orang tua berperan sebagai figur yang selalu diamati, diobservasi dan ditiru oleh anak. Orang tua diharapkan mampu menjadi contoh bagi anak. Apapun yang dilakukan oleh orang tua, baik atau buruk, akan ditiru oleh anak. Orang tua yang menunjukkan kasih sayang satu sama lain akan membuat anak mampu meniru ekspresi kasih sayang tersebut. Begitu pula ketika orang tua melakukukan kekerasan, seperti membanting barang misalnya. Maka jangan heran jika anak tidak segan membanting mainan-mainannya. Orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang jujur, sopan dan taat beragama, harus mencontohkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua harus Ing Ngarso Sung Tuladha, di depan menjadi contoh.

Ing Madya Mangun Karsa, di tengah memberi semangat. Ketika anak berusia 6-12 tahun, anak sedang senang berinteraksi dengan orang lain. Anak menjadi lebih senang berteman. Teman adalah sosok yang dipersepsikan anak sebagai orang menyenangkan dan mampu mengerti. Sehingga tidak jarang, anak lebih memilih temannya untuk berbagi cerita daripada orang tua. Di sini lah peran orang tua sebagai sosok yang menyenangkan dan mengerti anak diperlukan. Orang tua diharapkan menjadi si pemberi semangat untuk anak. Sehingga anak akan datang kepada orang tua ketika dia membutuhkan teman bercerita dan nasihat bagi permasalahannya.

Terakhir, di usia 12 tahun ke atas, orang tua diharapkan menjadi sosok yang mampu mendukung kemandirian anak. Tut Wuri Handayani, di belakang memberi dorongan. Ketika anak telah mendapatkan contoh yang baik dan sosok menyenangkan yang selalu memberikan semangat, anak membutuhkan dorongan untuk dapat menjadi pribadi yang mantap dalam menjalani tantangan dari dunia luar. Mona Ratuliu menggambarkan orang tua sebagai kamus dalam fase usia anak 12 tahun ke atas. “Persis seperti kamus, yang diam saja disimpan di rak buku saat tidak digunakan dan selalu siap memberikan informasi saat diminta.” (Hal. 72) Karena anak biasanya telah memiliki kewenangan atas diri dan lingkungannya sendiri pada usia ini.

Setiap keluarga akan memiliki pola asuhnya sendiri. Pola asuh menjadi hal yang sangat personal dan khas bagi masing-masing keluarga. Tidak semua keluarga cocok menerapkan satu pola asuh. Orang tua dituntut untuk bisa memilih dan menerapkan pola asuh yang paling sesuai dengan kondisi anak.

Saya kembali mengingat satu-persatu cerita anak di Lapas/Rutan/LPKA. Pola asuh yang kurang tepat menjadi hal yang sering saya dengar: Orang tua yang terlalu sibuk mencari uang sehingga mengabaikan kebutuhan anak akan sosok yang menyenangkan dan mampu memahami anak. Kekerasan sebagai bentuk perilaku yang dipilih untuk mendisiplinkan anak. Pembiaran atau justru pembelaan ketika anak melakukan kesalahan. Ternyata, pola asuh yang kurang tepat, jika tidak bisa dikatakan salah, ikut mengantarkan anak-anak tersebut ke Lapas/Rutan/LPKA.

Ditulis oleh Febi Dwi S. (Relawan Sahabat Kapas).

Referensi:

[1] Bobo Doll Experiment, http://www.simplypsychology.org/bobo-doll.html, diakses 29 September 2016, jam 22.00.

[2] Ny.  Y.  Singgih D. Gunarsa dan Gunarsa, Singgih  D, Psikologi Remaja, Gunung Mulia, Jakarta, 2007, cet. 16, hlm. 109.

[3] Mona Ratuliu, ParenThink, Noura Books, Jakarta Selatan, 2015, cet. 2, hlm.57.

Hentikan Perundungan

Sepekan terakhir, dua video perundungan yang dilakukan sekelompok mahasiswa dan pelajar sekolah menengah pertama di Jakarta menjadi viral. Miris adalah satu kata yang muncul ketika melihat tayangan tersebut.

Ribuan orang ikut membagikan video tersebut. Di laman media sosial saya sendiri terdapat lebih dari sepuluh orang yang membagikan setiap harinya. Saya dipaksa ikut menontonnya.

Video tersebut membangkitkan ingatan di masa lalu, pengalaman menjadi korban cemoohan karena kondisi fisik yang berbeda dan kekerasaan yang dilakukan senior. Kedua pengalaman tersebut sangat tidak mengenakan. Menghantui masa remaja.

Selain membangkitkan memori buruk, video tersebut juga dmemberi dampak pada penontonnya. Tayangan yang sama dan hadir berulang akan mempengaruhi alam bawah sadar penontonnya, tak terkceuali tayangan kekerasaan. Jika penonton tersebut memiliki kemampuan kognitif yang baik, tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika yang menonton adalah remaja tanpa pendampingan orang dewasa, maka dia akan mendapatkan contoh yang menarik untuk ditiru. Siklusnya diawali dari melihat, kemudian mengamati dan mencontohnya.

Perundungan adalah padanan kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk bullying. Perundungan yaitu proses, cara, perbuatan merudung seseorang dengan menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang yang lebih lemah. Perundungan dapat dilakukan secara fisik, verbal, sosial, dan di dunia maya (cyber).

Perundungan bukan berita baru. Praktik demikian selalu berulang karena pemahaman kita tentang apa itu perundungan dan aksi pencegahannya masih minim. Baru tiga tahun terakhir, mulai banyak diskusi dan informasi tentang perundungan ini disebarkan. Sasaran utama adalah lingkungan pendidikan yang banyak terdapat praktik perundungan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data pada Juli 2016, terdapat 247 kasus perundungan anak (korban dan pelaku) di sekolah yang dilaporkan terjadi sepanjang tahun 2015. Sedangkan hingga pertengahan tahun 2016 sendiri terdapat 174 kasus.[1]

Kementrian Pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan peraturan Nomor 82 tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan kekerasaan di lingkungan sekolah. Bentuk kekerasaan yakni pelecehan, penganiayaan, perundungan, perpeloncoan, perkelahian, pencabulan, dan bentuk kekerasaan lainnya sesuai undang-undang. Perundungan menjadi salah satu perhatian serius karena mengandung aktifitas terus-menerus yang mengusik atau mengganggu.

Dan Olweus dalam tulisannya tentang A Profile of Bullying at School (2003) mengungkapkan lingkaran perundungan yang melibatkan beberapa pihak. Pertama, the bully yakni dia yang memulai dan aktif melakukan perundungan. Kedua, followers/henchmen ikut aktif mengambil bagian tapi bukan pemicu awal. Ketiga, supporters yang mendukung perundungan namun tidak ambil bagian secara aktif. Keempat, passive supporters menyukai aktifitas perundungan tersebut namun tidak menunjukan sikap dukungannya. Kelima, disengaged onlookers yakni mereka yang ikut melihat saja dan tidak ambil sikap mendukung atau menentang. Keenam, possible defenders tidak menyukai perundungan dan tahu jika harus menolong korban tapi tidak melakukan apa-apa. Ketujuh, defenders of the victim menunjukan sikap tidak suka dan membantu korban. Kedelapan, the vctim yang biasanya tunggal.

Lingkaran orang dalam aktifitas perundungan diatas dapat menjadi bahan refleksi kita. Selama ini kita berada dimana? Apakah di nomor enam? Atau malah di nomor dua?

Sepanjang tahun 2016, Sahabat Kapas sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu anak, telah melakukan edukasi menghentikan perundungan. Lima lokasi sekolah menjadi sasaran di wilayah Soloraya. Mayoritas peserta kegiatan mengungkapkan pernah menjadi korban. Bahkan 90% peserta laki-laki mengakui pernah melakukan atau menjadi korban stater.

Stater adalah aktifitas kolektif dikalangan anak laki-laki. Dimana kedua tangan korban dipegang dan organ genitalnya diinjak layaknya nyetater sepeda motor. Biasanya korban adalah anak baru, anak pendiam, anak lebih junior, atau badannya lebih kecil. Sedangkan pelakunya teman sebaya atau senior. Pelaku stater sebelumnya pernah menjadi korban kemudian melakukan hal serupa pada orang yang lebih lemah. Hal ini telah berlangsung sekian tahun dan dianggap sebagai bahan becandaan. Padahal semua korban statermengakui jika aktifitas tersebut sangat tidak mengenakan karena menimbulkan rasa sakit, sedih, dan marah.

Selama ini, apakah kita (orang dewasa) sudah tahu tentang stater ini? Jika iya, apakah kita sudah ikut untuk menolong korbannya? Atau hanya melihat tapi tidak pernah bersikap apapun?

Masih ingatkah dengan sosok Lex Luthor di film Superman atau Green Goblin di film Spiderman. Kedua sosok antagonis tersebut digambarkan memiliki masa kecil tidak bahagia. Kerap dicemooh atau dipukul dan tidak ada yang membantunya. Timbunan rasa sedih, kecewa, marah, dan sakit fisik bergumul menjadi satu dibawa hingga dewasa. Semuanya tercermin dalam perilaku dan karakter kedua tokoh tersebut.

Dalam kehidupan nyata, praktek demikian juga ada. Pelaku kriminal penghuni penjara tak sedikit yang pernah mendapatkan cemoohan atau ejekan ketika masa anak. Pengalaman tersebut masih diingat jelas hingga dewasa dan ada (sebagian) menduplikasinya.

Merundung orang yang lebih lemah atatu berbeda kondisi dianggap bagian dari bahan candaan oleh masyarakat kita. Sehingga ketika ada praktek merundung, tidak banyak orag yang bereaksi menolong korban karena dianggap hanya guyonan. Sikap permisif ini menjadi zat pengawet perundungan disekitar kita.

Karenanya dibutuhkan upaya bersama untuk menghentikan perundungan yang dimulai dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Edukasi bagi orang tua dan tenaga pendidik tentang pengasuhan dan perlindungan anak sangat penting. Tiap sekolah membuat aturan yang serius ditegakkan untuk menghentikan perundungan sesuai dengan Permendikbud No.82/2015. Tersedia juga wadah konseling sebaya atau individu bagi korban maupun pelaku perundungan yang dibimbing tenaga pendidik terlatih.

Kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang dampak buruk perundungan perlu ditingkatkan. Tayangan berbau unsur perundungan juga perlu dibatasi ketat oleh pemerintah lewat Komisi Penyiaran, misalnya.

Semua pihak memiliki andil berarti untuk menyelamatkan karakter anak bangsa yang menolak perundungan dan lebih humanis pada sesama. Wong kece ora ngece.

 

Ditulis oleh Dian Sasmita (Direktur Sahabat Kapas).

Tulisan ini telah diterbitkan dengan judul Menghentikan Perundungan dalam Gagasan di media cetak Solopos, dan situs solopos.com pada tanggal 29 Juli 2017.

Foto diambil dari facebook Solidaritas Kapas.

Sumber:

[1] http://bankdata.kpai.go.id/tabulasi-data/data-kasus-per-tahun/rincian-data-kasus-berdasarkan-klaster-perlindungan-anak-2011-2016

Touch and Talk sebagai Peredam Stressor Akibat Perundungan

Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini rentan dengan keadaan stres. Tekanan bertubi-tubi baik fisik dan psikologis yang dialami oleh remaja paling banyak datang dari lingkungan pergaulan, tekanan tugas sekolah dan tekanan peran sosial yang berubah. Bahkan pengalaman dirundung menyebabkan stres lebih cepat menyerang. Individu yang mengalami stres tak jarang menginginkan solusi yang paling ampuh dalam mengatasi gangguan stres.

Tren masalah yang dihadapi anak-anak adalah perundungan. Kasus perundungan (bullying) sendiri tahun 2017 ini meningkat. Hasil data survei kasus perundungan menunjukkan sebanyak 84%  anak usia 12 sampai 17 tahun pernah menjadi korban perundungan [1]. Seorang anak yang pernah menjadi korban perundungan pasti merasakan stres bahkan depresi, seperti kasus pertengahan Juli 2017 lalu di Thamrin City, Jakarta.

Definisi dari perundungan itu sendiri adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain [2]. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar rasagamagenderseksualitas atau kemampuan. Tindakan perundungan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber.

Perundungan membuat kita, para orang dewasa, merasa was-was jika salah satu anak kita, ataupun adik dan saudara kita menjadi korban. Sebagai orang dewasa yang mengerti kita dapat membantu para korban dengan melakukan hal sepele. Seperti menyentuh (touch) dan ajak berbicara (talk) anak yang pernah menjadi korban. Touch and talk tidak hanya baik bagi anak yang menjadi korban perundungan, namun juga bagi penyelesaian masalah yang dihadapi anak yang membuatnya stres ataupun depresi.

Terapi touch and talk dapat dilakukan oleh orang terdekat anak, baik orang tua maupun keluarga lainnya. Tujuannya membuat kegelisahan anak mereda dan memberi dampak positif pada anak yang mempunyai gangguan perilaku. Hal tersebut didukung oleh penelitian Kemper dan Kelly pada tahun 2004 yang menyatakan perasaan nyaman akibat sentuhan juga akan merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormon endorphin [3]. Peningkatan endorphin dapat mempengaruhi suasana hati dan dapat menurunkan kecemasan seseorang, hormon ini menyebabkan otot menjadi rileks dan tenang. Jika stressor kecemasan yang dialami anak dapat diatasi maka kecemasan yang dialami anak dapat menurun (Haruyama, 2011) [4].

Kemampuan kognitif anak terutama remaja masih dalam proses berkembang. Sehingga ketika stressor datang menyerang, para remaja cenderungmencari solusi dari orang terdekat. Nah, kita sebagai orang dewasa diharapkan dapat menempati posisi tersebut, sebagai orang terdekat mereka. Berikanlah kasih sayang dan perhatian tulus lewat komunikasi. Ajak mereka bicara mengenai apa yang dirasakan, apa saja yang telah dikerjakan sehingga membuat hari-hari mereka begitu menyenangkan atau menyedihkan. Sentuhlah mereka dengan lembut dan penuh cinta, maka para remaja iniakan lupa dengan masalah yang sedang mereka hadapi karena sudah terfokuskan akan kasih sayang yang mereka dapatkan.

 

Ditulis oleh Euis Ulfa Z. (Relawan Sahabat Kapas).

Foto diambil dari facebook Solidaritas Kapas.

Sumber:

[1] http://www.viva.co.id/berita/nasional/938446-kasus-bullying-anak-meningkat-pada-2017

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Penindasan

[3] Kemper, Kathi J., & Kelly, Erica A. (2004). Treating Children With Therapeutic and Healing Touch. Pediatric Annals. 33, 4. Pg. 248.

[4] Haruyama, S. (2011). The Miracle of Endorphin. Bandung: Qanita.