Mendengar Suara Anak Selama Pandemi

FAN JatengMasa pandemi akibat virus covid-19 masih belum berakhir, orang-orang mencoba bertahan hidup dengan kenormalan baru. Anak-anak masih dianjurkan untuk sekolah di rumah, orang tua beraktivitas di rumah dan segala kesibukan serta luangnya waktu dilakukan di rumah. Jika pun harus keluar, ada baiknya untuk mematuhi protocol kesehatan yang ada, mencuci tangan, memakai masker, membawa handsanitizer. Jenuh, bosan, lelah bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa namun juga dirasakan oleh anak-anak.

Sebagai wadah dan respons untuk mendengarkan suara mereka selama pandemi, kemarin pada hari Selasa, 21 Juli 2020 telah diadakan Bincang Santai bersama Forum Anak Jawa Tengah dengan moderator Kak Aan Haryono dan host Kak Bintang. Acara ini dilakukan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui YouTube Setara.  Peserta  dalam acara ini bukan hanya diikuti oleh anak-anak melainkan juga remaja dan orang tua, ini menjadi bukti bahwa memang suara anak sangat penting untuk didengarkan. Selain itu beberapa media juga turut mengikuti acara Bincang Santai ini.

Kegelisahan anak muncul dalam beberapa bulan terakhir, dikarenakan anak-anak harus menjalani kegiatan belajar mengajar di rumah, yakni melalui sistem daring dan hal tersebut bukan merupakan hal yang mudah untuk dijalani oleh sebagian anakanak. Menurut pengakuan Ibham dari FAN Jateng bahwa selama masa pandemi Forum Anak Jawa Tengah melaksanakan kegiatan secara online, salah satunya survei suara anak secara tertutup.

Hingga muncul isu terutama soal pendidikan, pembelajaran online membuat anak anak sedikit terkejut dengan perubahan sistem pembelajaran yang justru banyak menimbulkan kesulitan. Mulai dari jaringan yang sulit diakses, kuota yang dibutuhkan cukup banyak, dan tugas juga cenderung lebih banyak. Rekomendasi yang disampaikan oleh anak-anak langsung disampaikan ke bapak gubernur dan mendapat respon positif pula. Sistem kuota kabarnya akan dicover oleh dana BOS (info dari Gubernur Jawa Tengah). Meski begitu tetap saja banyak anak yang menyampaikan keinginannya ingin kembali ke sekolah.

Soal lain juga muncul dengan jadwal penggunaan gawai, Ricky Aditya dari FAN Jateng menjawab bahwa di Wonosobo sendiri pembelajaran menggunakan Google Classroom sehingga lebih mudah mengatur waktu dalam penggunaan gawai. Selain itu diperlukan juga bantuan dari orang tua untuk mengingatkan dan mengawasi. Pengalaman beberapa anak saat belajar daring justru tidak paham dan cenderung malas. Hal serupa juga disampaikan Bu Naning selaku perwakilan dari UNICEF bahwa Kesulitan orang tua adalah membatasi penggunaan gawai karena anak-anak berdalih untuk kebutuhan sekolah dan kebutuhan kuota yang banyak.

Sebanyak 590 anak yang menjawab survei yang dilakukan FAN Jateng, ada sekitar 20-25% anak yang tidak memiliki akses internet dan gawai. Hal ini pun juga memberikan pengaruh yang cukup besar karena anak-anak bisa tertinggal informasi penting terlebih saat kenaikan kelas. Bahkan para guru pun juga akhirnya harus mengambil langkah kreatif untuk mengunjungi rumah para siswanya untuk melakukan cap tiga jari. Selain anak, guru juga dituntut inovatif dalam memberikan materi misalnya dengan membuat video pembelajaran.

Untuk memperingati Hari Anak Nasional, FAN Jateng pun rupanya sudah menyiapkan 7 poin suara anak yang akan disampaikan nanti kepada Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Suara Anak ini telah melalui beberapa usulan dari Forum Anak Daerah di Jawa Tengah, yang kemudian dikemas dalam 7 poin dan akan disampaikan nanti pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2020.

 

Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender

Kegiatan konseling kelompok remaja LPKA bersama Sahabat Kapas

Banyak sekolah yang sudah menyandang predikat sekolah ramah anak. Lalu bagaimana dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA)? Rupanya pemerintah sedang berlomba untuk menjadikan lembaga atau institusi layanan anak sebagai tempat yang ramah anak. Mulai dari fasilitas umum, taman, sekolah hingga fasilitas kesehatan. Semua tempat yang bisa kita temukan anak-anak di sana, akan disulap menjadi tempat ramah anak.

LPKA seringkali dianggap sebagai tempat yang paling tidak aman dan tidak ramah bagi anak, ketika kekerasan masih langgeng hidup di sana. Sebagai contoh, bukan hanya di awal tahun ajaran baru masuk sekolah kita dikenalkan pada masa orientasi, atau sering dikenal dengan istilah “penggojlokan” dari senior terhadap junior. Hal serupa juga dialami oleh anak yang pertama kali masuk ke dalam LPKA. Tradisi senioritas saat si junior “digulung” oleh seniornya masih ditemukan di LPKA. Meski kadang praktik ini masih luput dari petugas. Teknik yang dilakukan para remaja ini pun unik. Mereka akan menunggu hingga larut malam dan biasanya mereka menyasar pada bagian tubuh yang berlokasi di area yang tertutup oleh baju serta jarang meninggalkan bekas setelah dipukul.

Kebiasaan menggunakan kekerasan dalam kehidupan anak-anak di LPKA merupakan sebuah norma berbahaya dan jika dilanggengkan akan menghambat proses perubahan anak ingin menjadi lebih baik dan mengakhiri kekerasan. Remaja di LPKA terpapar kekerasan sejak kecil, mereka dibesarkan di bawah budaya patriarki. Hampir seluruh remaja yang didampingi Sahabat Kapas pernah mengalami kekerasan dari orang tuanya. Kemudian, mereka harus tinggal di LPKA yang masih akrab dengan kekerasan. Lengkap sudah penderitaan. Padahal, harusnya selama di LPKA mereka bisa mendapat motivasi untuk berubah menjadi lebih baik dan hak untuk merasa aman dan nyaman hingga mereka siap untuk kembali ke masyarakat.

Pada Selasa, 19 Mei 2020 Sahabat Kapas melakukan diskusi sesi pertama, Menuju LPKA Ramah Anak dan Sensitif Gender bersama petugas dari LPKA Kutoarjo dan Yogyakarta. Dipandu oleh Ibu Defirentia One Direktur Rifka Annisa Yogyakarta dan didukung oleh Rutgers WPF Indonesia, para petugas berdiskusi melalui zoominar untuk identifikasi norma-norma berbahaya yang masih hidup di tengah-tengah remaja di LPKA. Ketimpangan kuasa antara anak yang lebih senior kepada junior maupun antara petugas dengan anak, menjadi pemicu terjadinya kekerasan berbasis gender di LPKA.

Diskusi ini mengajak petugas untuk melihat lebih dalam dan peka terhadap lingkungan para remaja. Lingkungan aman dan ramah anak ini berkaitan erat dengan pengaruh petugas sebagai pemegang kendali dan penyedia layanan bagi anak yang menjalani rehabilitasi. Dari norma- norma yang berhasil diidentifikasi, petugas bersepakat untuk tidak meneruskan norma berbahaya yang akan mengancam setiap perubahan baik para remaja di LPKA. Kebijakan klasifikasi penempatan kamar bagi anak telah disiapkan. Anak yang kedapatan melanggar aturan akan ditempatkan di kamar tersendiri. Sedangkan, untuk anak yang banyak berkelakuan baik akan mendapat reward. Diskusi tentang pendekatan gender sangat perlu untuk dilakukan secara berkala dengan para petugas di LPKA. Tiap kali ada diskusi, perlu tindakan yang aplikatif untuk tindak lanjut. Serta diskusi lanjutan untuk pengembangan maupun refleksi bagi petugas lainnya.

Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender untuk Remaja LPKA

Kegiatan konseling selama pandemi di LPKA.

Pekan lalu, Sahabat Kapas telah melaksanakan konseling kelompok pencegahan kekerasan berbasis gender bersama remaja di LPKA. Pelaksanaan konseling kelompok di tengah pandemi sedikit berbeda karena dilakukan melalui 2 metode. Rabu, 8 Juli 2020 konseling kelompok dilakukan secara tatap muka di LPKA Kutoarjo. Sedangkan Kamis, 9 Juli 2020 konseling kelompok dilakukan secara tatap layar (zoominar) di LPKA Yogyakarta.

Tahun 2020 menjadi tahun ketiga dilakukannya konseling kelompok. Setelah 2018 diujicobakan di LPKA Tangerang dan Kutoarjo. Lalu 2019 diimplementasikan di LPKA Kutoarjo dan LPKA Yogyakarta. Hingga tahun ini kembali dilakukan di 2 LPKA implementator tersebut. Konseling kelompok dilakukan dengan mengacu pada modul konseling kelompok pencegahan kekerasan berbasis gender yang telah diluncurkan akhir tahun lalu. Modul yang berisi materi tentang pencegahan kekerasan berbasis gender dan hak kesehatan seksualitas dan reproduksi ini ditujukan bagi para remaja di LPKA. Hal tersebut dilakukan agar peserta konseling mampu menginternalisasi nilai-nilai adil gender dan teredukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang masih sangat minim bisa mereka dapatkan. Dampak dari konseling kelompok ini bisa dirasakan setelah anak selesai melakukan 13 sesi konseling. Entah mereka masih berada di dalam LPKA atau sudah bebas, mereka berhak untuk ubah perilaku menjadi lebih baik. Mereka berlatih untuk dapat mengelola emosi hingga menumbuhkan empati remaja pelaku kekerasan pada korban agar tidak mengulangi kekerasan di kemudian hari. Implementasi ini dilakukan pada 15 anak LPKA Kutoarjo dan 7 anak LPKA Yogyakarta, yang sebelumnya telah diseleksi dan diasesmen melalui konseling individu.

Sesi pertama ini menjadi sesi yang sangat menyenangkan karena peserta dapat berkenalan lebih dekat dengan para pendamping dari Sahabat Kapas dan petugas pendamping. Para pendamping konseling kelompok ini, mereka yang sudah dilatih tentang teknik konseling, kekerasan berbasis gender serta hak kesehatan seksualitas dan reproduksi (HKSR). Siang itu suasana ruang konseling sangat ramai oleh lantunan lagu anak untuk mengiringi games perkenalan “Aku Kece”. Serta tak kalah menariknya dengan games “Kenal-kenalan” ketika tiap anak dan petugas diminta menuliskan 3 hal paling berkesan saat pertama kali bertemu dengan masing- masing orang dalam lingkaran aman konseling. Kegembiraan para remaja peserta konseling tidak akan berhenti di sesi ini saja karena masih ada 12 sesi selanjutnya yang pastinya akan lebih seru.

Self-acceptance: Mengapa Harus Menerima Diri Sendiri?

Oleh Novita Sari*

“Kenapa aku enggak bisa sesukses dia? Kenapa aku enggak sepintar dan sekeren dia? Kapan sih aku bisa punya apa-apa kaya dia? Kenapa dia lebih beruntung dari pada aku?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali berlalu-lalang di pikiran kita. Tidak harus semua, minimal salah satu pasti ada yang terlintas di pikiran kita. Pertanyaan itu akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam banyak hal daripada kita.

Dengan awalan sekadar pertanyaan “kenapa” lalu timbul rasa cemas, insecure, tidak percaya diri, malu, merasa gagal, dan tidak bernilai.  Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, menjadi orang yang ambisius atau berhenti di tempat. ­Orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri akan merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, hal ini yang akan menjadikan seseorang menjadi ambisius.

Agar kita tidak terjebak dalam rasa insecure, ada satu kemampuan yang bisa dikembangkan. Kemampuan tersebut adalah self-acceptance. Menurut Jersild, self-acceptance (penerimaan diri) merupakan keadaan di mana seseorang bersedia menerima dirinya dari segi fisik, sosial ekonomi, kelebihan, serta kekurangan yang ada pada dirinya.

Salah Kaprah Penerimaan Diri

Dengan menerima diri sendiri, kita akan mampu berdamai dengan kondisi dan apa yang ada pada diri kita, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Ada yang berpendapat bahwa penerimaan diri artinya kita tidak berkembang. Kita berhenti di tempat dan tidak mengusahakan perubahan dalam hidup. Pandangan ini jelas salah kaprah, karena dengan menerima diri sendiri kita akan tahu letak dari ketidakmampuan dan kekurangan kita sehingga kita bisa memperbaikinya.

Langkah awal sebelum kita mengubah sesuatu adalah sadar akan ketidaksempurnaan. Yakni, hal yang akan kita ubah adalah sesuatu yang perlu diubah. Kalau kita tidak sadar tentang hal apa yang akan kita perbaiki, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menerima kekurangan, kita tahu apa yang harus diperbaiki tanpa harus berkecil hati. Selaras dengan kutipan dari Carl Jung, “We Cannot Changes anything unless we Accept it” (Kita tidak dapat mengubah sesuatu tanpa kita menerimanya).

Setelah itu pertanyaan lain yang akan muncul adalah “bagaimana cara untuk menerima diri sendiri?” Seseorang bisa menerima dirinya sendiri dengan cara mengenal siapa dirinya dan menjawab pertanyaan who am i? Selanjutnya, kita juga harus memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Ketiga, kita perlu berdamai dengan kekurangan yang ada pada diri dan yang terakhir  adalah love your self atau cintailah dirimu sendiri.

Ajak Anak Cegah Bullying Melalui Film

Oleh Muhammad Rizki Budi Rampdan*

Perundungan (bullying) merupakan salah satu masalah yang paling sering muncul di lingkungan anak, terutama di sekolah. Melihat fenomena tersebut, tim magang Sahabat Kapas dari Sosiologi UNS dan Psikologi UMS mengadakan edukasi pencegahan bullying dengan medium film kepada anak-anak usia  6-8 tahun di GKI Sangkrah Solo pada Selasa (11/2/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai tindakan bullying dan cara pencegahannya.

Tidak hanya dari tim magang Sahabat Kapas, kegiatan juga dibantu oleh kakak-kakak pembimbing dari GKI Sangkrah. Kerja sama yang baik dapat membuat kegiatan edukasi pencegahan bullying berjalan lancar. Sebelum menonton film, anak-anak diajak bermain bersama untuk membangun semangat dan ketertarikan mereka terhadap kegiatan.

Film Pendek Jagoan Cilik

Film pendek berjudul Jagoan Cilik dianggap dapat mewakili pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada anak.  Film ini menceritakan tentang sekelompok anak yang melakukan bullying kepada temannya dengan mengambil uang dan makanan yang dimiliki sang teman. Namun seiring perkembangan cerita, anak-anak yang melakukan bullying mengetahui latar belakang dari teman tersebut yang tengah kesulitan ekonomi. Melihat hal tersebut, timbul dalam benak mereka bahwa apa yang dilakukan selama ini merupakan tindakan yang tidak baik. Pada akhirnya, mereka pun tak lagi melakukan bullying dan malah membantu sang teman.

Refleksi Diri dengan Berbagi Cerita

Setelah selesai menonton film, anak-anak diajak untuk bercerita mengenai pengalaman menonton mereka. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diminta untuk berbagi cerita mengenai apa yang mereka pelajari dari film pendek Jagoan Cilik. Saat sesi diskusi kelompok, anak-anak diberi waktu untuk menggambar dan mewarnai bertema kegiatan bersama teman sehari-hari. Mereka juga diajak berbagi apa yang telah dipelajari dari kegiatan edukasi pencegahan bullying di depan teman-temannya. Salah satu anak mengatakan bahwa dia sangat senang dengan kegiatan tersebut karena bisa belajar melalui film dan menggambar.

Pelatihan Master Trainer Gender Transformative Approach (GTA)

Oleh Anindyanari Mukti Retnodewati*

 

Dua perwakilan Sahabat Kapas mengikuti Pelatihan Master GTA yang dilaksanakan oleh Rutgers WPF Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Februari 2020 dan bertempat di Hotel Novotel Solo. Gender Transformative Approach (GTA) ini senantiasa mengubah norma gender yang kaku serta ketidakseimbangan relasi kuasa yang selama ini tejadi dalam kehidupan masayarakat. Pelaksanaan GTA diaharapkan mampu meningkatkan Hak dan Kesehatan Seksual Reproduksi dan menurunkan kekerasan berbasis gender. Sebagai contoh, sebanyak 888 kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam triwulan ketiga pada tahun 2019 menurut Humas Pemerintah Jawa Tengah. Dengan banyaknya kasus tersebut, terlihat urgensi dalam pecegahan kekerasan berbasis gender di Indonesia ini.

 Pendekatan Berbasis HAM

Dalam melaksanakan pelatihan ini, Rutgers menggunakan pendekatan berbasis HAM (Human Rigths-Based Approach). Pendekatan ini dianggap sebagai suatu alat yang berguna untuk menegakkan hak-hak manusia khususnya perempuan dan anak perempuan yang dilanggar ketika kekerasan berbasis gender terjadi. Semua ras, agama, jenis kelamin, etnis, maupun latar beakang budaya mereka sebenarnya memiliki hak yang sama dan itu dibawa semenjak seseorang dilahirkan. Dengan begitu, hak asasi manusia tidak bisa dicabut oleh siapapun karena tidak dapat diambil maupun dilepaskan oleh orang lain.

Lalu apa hubungannya dengan GTA ini? Ini dilihat dari outcome yang diinginkan oleh Rutgers bahwa adanya kesetaraan gender serta seimbang dan terpenuhinya hak-hak seksual dan reproduksi. Agar pendekatan ini dapat berjalan maksimal, semua pemangku kewajiban perlu untuk diberikan pemahaman atau bekal untuk mempertahankan hak tersebut.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Kekerasan berbasis gender yang selama ini terjadi tidak lepas dari seseorang yang lebih merasa berkuasa dibandingkan yang lainnya. Menurut Rutgers, ada 3 bentuk kekuasaan yang berbeda. Pertama adalah kekuasaan yang terlihat. Kekuasaan yang terlihat ini mengacu pada seseorang atau institusi yang lebih kuat dan bisa memengaruhi pemikiran atau tindakan orang-orang yang ada di bawahnya. Konotasi yang diberikan pada kekuasaan ini cenderung negatif karena berbentuk seperti dominasi, pelecehan, penindasan pada orang lain, dan pemaksaan.

Bentuk kekuasaan kedua adalah kekuasaan tersembunyi yang sering digunakan oleh suatu pihak yang memiliki hak-hak istimewa untuk mempertahankannya. Kekuasaan ini biasanya digunakan dalam proses politik, tempat kerja, maupun komunitas. Kekuasaan ini dilaksanakan dengan menciptakan berbagai hambatan-hambatan kepada orang lain untuk berpartisipasi semisal tidak diizinkannya seseorang (dikarenakan usia, jenis kelamin, maupun status sosial tertentu) untuk bersuara dalam suatu keadaan yang seharusnya mereka memiliki hak untuk bersuara.

Yang terakhir adalah kekuasan yang tak terlihat. Kekerasan ini merupakan sebuah bentuk kekuasaan yang melekat pada diri seseorang dikarenakan norma, nilai, maupun agama, yang telah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Karena sudah melekat pada orang-orang, kekuasaan ini terbilang sulit untuk diatasi dan telah terjadi secara tidak sadar. Sebagai contoh, pada seorang wanita yang merasa harus patuh pada laki-laki karena ia telah meninternalisasi bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki meskipun secara finansial ia memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan laki-laki tersebut.

Dukung Kami untuk Penyediaan Wadah Sabun dan Wadah Air Bersih

Halo teman-teman yang baik, kali ini Sahabat Kapas berkolaborasi dengan Omah Badran ingin mengajak teman-teman semua untuk menekankan kesadaran pentingnya menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menjaga kesehatan dan kebersihan adalah cara termudah yang bisa kita lakukan untuk menghadapi situasi saat ini.

Kami mengajak teman-teman semua untuk bangkit dari keterpurukan. Bagaimana pun hal baik yang dilakukan oleh banyak orang juga akan membawa dampak baik yang lebih besar. Sebagai makhluk sosial yang peduli terhadap sesama dan mencintai kehidupan itu sendiri, mari kita saling peduli dan mengingatkan yang lain untuk kehidupan yang lebih baik.

Nah, saat ini Omah Badran sedang memproduksi sabun cair mandiri untuk menunjang kesadaran hidup bersih dan sehat ini. Sabun cair ini lalu dibagikan kepada warga sekitar secara cuma-cuma. Untuk itu teman-teman yang baik, kami butuh dukungan kalian untuk membantu menyediakan pengadaan wadah sabun cair dan wadah air bersih untuk diberikan kepada warga. Jika kamu berkenan silakan hubungi kontak di bawah ini. Dan kalau kamu peduli, kamu boleh juga menyebarkan pesan ini. Ayo bantu sesama!

Hubungi mas Dani di nomor 081228930833 (whatsapp).

Seksualitas Tak Boleh Lagi Dianggap Tabu

“Bagaimana sikap yang harus kami ambil atau apa yang harus kami lakukan ketika saat patroli keliling kamar anak, kami mendapati anak yang sedang onani?”

Pertanyaan menarik tersebut dilontarkan oleh salah satu petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam kegiatan refleksi tentang Hak Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi yang diadakan pada awal Agustus lalu. Kegiatan refleksi tersebut diselenggarakan oleh Sahabat Kapas dengan dukungan dari Rutgers WPF Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Sahabat Kapas menggandeng dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Aditya Putra Kurniawan, sebagai narasumber utama.

Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Aditya menjelaskan tentang pandangan masyarakat umum yang mengganggap bahwa seksualitas itu tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Meskipun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, membicarakan seksualitas bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan leluasa. Padahal, Aditya berpendapat edukasi seksual sudah seharusnya dikenalkan kepada anak sedini mungkin (sejak batita).

Seksualitas harus dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dibicarakan agar anak lebih terbuka. Orang tua dapat memulai edukasi seksual dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, mengenalkan anak dengan nama organ kelaminnya. Seperti vagina milik anak perempuan dan penis milik anak laki-laki. Tidak boleh orang tua mengganti istilah penis dengan burung karena akan membingungkan anak.

Suasana pelatihan Sahabat Kapas di LPKA Kutoarjo

Peran Petugas dalam Edukasi Seksual Anak-Anak di LPKA

Petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam hal ini juga memiliki peran selayaknya orang tua dalam edukasi seksual anak. Anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo berhak mendapatkan pendidikan seksualitas tersebut. Dengan edukasi seksual dan reproduksi yang tepat, anak-anak tersebut dapat memperoleh informasi yang terpercaya dan lebih terbuka terhadap seksualitasnya. Petugas memiliki peran yang sangat besar untuk menyampaikan edukasi seksual kepada anak-anak (remaja) di LPKA supaya mereka bijak dalam berhubungan seksual maupun melakukan aktivitas reproduksi.

Kehidupan homogen di LPKA dapat membuat hubungan seksual-reproduksi menjadi sangat berisiko. Hasrat untuk menyalurkan syahwat yang tidak bisa dikontrol akan menimbulkan beberapa masalah lain. Misalnya, kemungkinan praktik sodomi antarremaja laki-laki karena mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan keinginan dan kebutuhan dengan benar dan tepat. Padahal, risiko penyakit akan timbul jika salah satu ada yang mengalami infeksi.

Kembali ke pertanyaan awal, lalu apa yang harus dilakukan ketika mendapati seorang anak tengah melakukan aktivitas seksualnya? Menjawab pertanyaan ini, Aditya menerangkan ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, jika melihat hal itu terjadi, jangan dihentikan. Biarkan sampai anak selesai dengan aktivitasnya. Di hari berikutnya, petugas bisa mengajak anak berbicara secara langsung dan melakukan pendekatan untuk eksplorasi lebih lanjut. Ketika melakukan hal ini, petugas harus memastikan anak dalam kondisi yang aman dan nyaman. Petugas juga harus mendapatkan kepercayaan anak, agar ia lebih bebas dan terbuka untuk bercerita.

Kedua, pada saat pembimbingan berlangsung, petugas sebaiknya mengeksplorasi sejauh mana dorongan seksual itu muncul, misalnya bagaimana perasaan anak mengenai aktivitas seksual. Petugas harus menunjukkan sikap bahwa ia memahami kondisi dan perasaan anak tersebut. Dengan menunjukkan sikap memahami, petugas akan lebih leluasa untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas seksual dan dampaknya. Misalnya, petugas dapat menyampaikan pada anak dampak dari onani/masturbasi yang berlebihan. Ketika dorongan seksual muncul, petugas juga dapat membantu anak mencari alternatif pengalih kegiatan. Terakhir, petugas dapat menghubungi psikolog agar anak bisa memperoleh perawatan dan bimbingan lebih lanjut.

 

Dampak Minimnya Edukasi Seksual

50% remaja yang didampingi oleh Sahabat Kapas adalah mereka yang melakukan kekerasan seksual ataupun pelecehan seksual. Yang menarik adalah meskipun beberapa anak yang masuk ke LPKA bukan karena kasus seksual, sebagian besar mereka mengaku telah aktif melakukan kegiatan seksual maupun reproduksi. Perilaku seksual berisiko yang dilakukan oleh remaja sebelum 18 tahun ini justru membuat mereka tinggal dalam dinginnya dinding bui. Kurangnya edukasi tentang seksualitas reproduksi menjadikan anak mencari tahu sendiri tentang hal tersebut di internet. Karena hampir seluruh anak tidak mau menanyakan langsung pada orang dewasa yang ia kenal. Akhirnya, mereka lari ke internet, namun hasil pencarian justru menampilkan informasi, gambar, atau video tentang pornografi.

Seksualitas dan reproduksi merupakan pengetahuan yang berhak diakses oleh seluruh manusia, tak terkecuali anak. Membicarakannya pun bukan sesuatu yang tabu, jika kita menempatkannya sebagai informasi wajib untuk disampaikan agar orang tak lagi menganggapnya sebagai hal yang saru (jawa: memalukan). Sedangkan posisi laki-laki yang seringnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Hal tersebut membuat remaja laki-laki membutuhkan intervensi lebih tentang edukasi seksualitas reproduksi yang positif.

Belajar Social Enterprise : Peningkatan Kapasitas Untuk Jadi Wirausaha Sosial

Kegiatan yang akrab disebut dengan usaha sosial ini adalah sebuah usaha atau bisnis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah sosial dimana laba yang diperoleh semua atau mayoritas diinvestasikan untuk menjalankan misi- misi sosial tersebut. Nah Sahabat Kapas juga punya usaha sosial loh!

Melalui progam Gerobak Kopi Onjel, Sahabat Kapas menjalankan mengkolaborasikan antara skema kewirausahaan muda dan usaha reintegrasi anak pasca penjara. Keterlibatan anak dampingan Sahabat Kapas dalam melakukan usaha sosial ini, mendorong pendamping untuk lebih keras lagi dalam meningkatkan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha sosial meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Pada 17-20 Juni 2019 lalu, salah satu tim dari Sahabat Kapas yakni Kak Yukarisa berkesempatan mengikuti kegiatan training Active Citizen for Social Enterprise (ACSE) yang diadakan oleh British Council yang bertempat di Creative Hub Fisipol UGM. Bertemu dengan pemuda pemudi lain yang sedang maupun akan menggerakkan kegiatan usaha sosial, kak Risa bersama-sama belajar tentang bagaimana menjadi wirausahawan sosial. Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang dipelajari antara lain pentingnya menjalankan dan mengelola usaha sosial dengan mengedepankan Unique Selling Point, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Dan yang paling penting adalah, apa visi utama yang menjadikan usaha sosial ini harus dijalankan! So inspiring! Semoga ONJEL sebagai usaha sosial Kapas bisa semakin berkembang dan bermanfaat ya!

Terima kasih untuk @britishcouncil @chubfisipol @tamboid

Picture taken by: @semenitberdua

Penghargaan Menteri Hukum dan HAM untuk Sahabat Kapas

Pada 25 Maret 2019 lalu, Sahabat Kapas diundang untuk menerima penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI kepada mitra LPKA sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan partisipasi Kapas dalam program pemenuhan hak Anak di LPKA, khususnya LPKA Kutoarjo.

Sahabat Kapas mulai berkegiatan di LPKA Kutoarjo sejak akhir 2014 dan hingga sekarang rutin melakukan pendampingan setiap dua minggu sekali. Dengan menggunakan pendekatan psikososial, Sahabat Kapas memberikan layanan konseling, pengembangan diri, dan pelatihan ketrampilan yang bernilai ekonomis untuk anak- anak. Bekerjasama dengan petugas LPKA Kutoarjo, Sahabat Kapas juga mengembangkan instrumen yang bisa digunakan untuk memudahkan asesmen kebutuhan dan perubahan anak.

Bagi Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, penghargaan ini adalah bentuk apresiasi yang  paling tepat diberikan kepada semua tim Sahabat Kapas. “Ini semua adalah hasil dedikasi, kerja keras dan kebahagiaan individu- individu di Kapas yang mendampingi remaja- remaja di LPKA dengan penuh semangat dan cinta.”

Selain Sahabat Kapas, Menteri Hukum dan HAM RI juga memberikan penghargaan kepada lembaga perwakilan pemerintah dan organisasi masyarakat yang turut serta dalam upaya besar pemenuhan hak anak di LPKA- LPKA di Indonesia. Semoga dengan adanya penghargaan ini, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan anak di Indonesia semakin solid ke depannya.