Self-acceptance: Mengapa Harus Menerima Diri Sendiri?

Oleh Novita Sari*

“Kenapa aku enggak bisa sesukses dia? Kenapa aku enggak sepintar dan sekeren dia? Kapan sih aku bisa punya apa-apa kaya dia? Kenapa dia lebih beruntung dari pada aku?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali berlalu-lalang di pikiran kita. Tidak harus semua, minimal salah satu pasti ada yang terlintas di pikiran kita. Pertanyaan itu akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam banyak hal daripada kita.

Dengan awalan sekadar pertanyaan “kenapa” lalu timbul rasa cemas, insecure, tidak percaya diri, malu, merasa gagal, dan tidak bernilai.  Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, menjadi orang yang ambisius atau berhenti di tempat. ­Orang yang tidak bisa menerima dirinya sendiri akan merasa tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, hal ini yang akan menjadikan seseorang menjadi ambisius.

Agar kita tidak terjebak dalam rasa insecure, ada satu kemampuan yang bisa dikembangkan. Kemampuan tersebut adalah self-acceptance. Menurut Jersild, self-acceptance (penerimaan diri) merupakan keadaan di mana seseorang bersedia menerima dirinya dari segi fisik, sosial ekonomi, kelebihan, serta kekurangan yang ada pada dirinya.

Salah Kaprah Penerimaan Diri

Dengan menerima diri sendiri, kita akan mampu berdamai dengan kondisi dan apa yang ada pada diri kita, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Ada yang berpendapat bahwa penerimaan diri artinya kita tidak berkembang. Kita berhenti di tempat dan tidak mengusahakan perubahan dalam hidup. Pandangan ini jelas salah kaprah, karena dengan menerima diri sendiri kita akan tahu letak dari ketidakmampuan dan kekurangan kita sehingga kita bisa memperbaikinya.

Langkah awal sebelum kita mengubah sesuatu adalah sadar akan ketidaksempurnaan. Yakni, hal yang akan kita ubah adalah sesuatu yang perlu diubah. Kalau kita tidak sadar tentang hal apa yang akan kita perbaiki, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menerima kekurangan, kita tahu apa yang harus diperbaiki tanpa harus berkecil hati. Selaras dengan kutipan dari Carl Jung, “We Cannot Changes anything unless we Accept it” (Kita tidak dapat mengubah sesuatu tanpa kita menerimanya).

Setelah itu pertanyaan lain yang akan muncul adalah “bagaimana cara untuk menerima diri sendiri?” Seseorang bisa menerima dirinya sendiri dengan cara mengenal siapa dirinya dan menjawab pertanyaan who am i? Selanjutnya, kita juga harus memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Ketiga, kita perlu berdamai dengan kekurangan yang ada pada diri dan yang terakhir  adalah love your self atau cintailah dirimu sendiri.

Ajak Anak Cegah Bullying Melalui Film

Oleh Muhammad Rizki Budi Rampdan*

Perundungan (bullying) merupakan salah satu masalah yang paling sering muncul di lingkungan anak, terutama di sekolah. Melihat fenomena tersebut, tim magang Sahabat Kapas dari Sosiologi UNS dan Psikologi UMS mengadakan edukasi pencegahan bullying dengan medium film kepada anak-anak usia  6-8 tahun di GKI Sangkrah Solo pada Selasa (11/2/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai tindakan bullying dan cara pencegahannya.

Tidak hanya dari tim magang Sahabat Kapas, kegiatan juga dibantu oleh kakak-kakak pembimbing dari GKI Sangkrah. Kerja sama yang baik dapat membuat kegiatan edukasi pencegahan bullying berjalan lancar. Sebelum menonton film, anak-anak diajak bermain bersama untuk membangun semangat dan ketertarikan mereka terhadap kegiatan.

Film Pendek Jagoan Cilik

Film pendek berjudul Jagoan Cilik dianggap dapat mewakili pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada anak.  Film ini menceritakan tentang sekelompok anak yang melakukan bullying kepada temannya dengan mengambil uang dan makanan yang dimiliki sang teman. Namun seiring perkembangan cerita, anak-anak yang melakukan bullying mengetahui latar belakang dari teman tersebut yang tengah kesulitan ekonomi. Melihat hal tersebut, timbul dalam benak mereka bahwa apa yang dilakukan selama ini merupakan tindakan yang tidak baik. Pada akhirnya, mereka pun tak lagi melakukan bullying dan malah membantu sang teman.

Refleksi Diri dengan Berbagi Cerita

Setelah selesai menonton film, anak-anak diajak untuk bercerita mengenai pengalaman menonton mereka. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diminta untuk berbagi cerita mengenai apa yang mereka pelajari dari film pendek Jagoan Cilik. Saat sesi diskusi kelompok, anak-anak diberi waktu untuk menggambar dan mewarnai bertema kegiatan bersama teman sehari-hari. Mereka juga diajak berbagi apa yang telah dipelajari dari kegiatan edukasi pencegahan bullying di depan teman-temannya. Salah satu anak mengatakan bahwa dia sangat senang dengan kegiatan tersebut karena bisa belajar melalui film dan menggambar.

Pelatihan Master Trainer Gender Transformative Approach (GTA)

Oleh Anindyanari Mukti Retnodewati*

 

Dua perwakilan Sahabat Kapas mengikuti Pelatihan Master GTA yang dilaksanakan oleh Rutgers WPF Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 5 Februari 2020 dan bertempat di Hotel Novotel Solo. Gender Transformative Approach (GTA) ini senantiasa mengubah norma gender yang kaku serta ketidakseimbangan relasi kuasa yang selama ini tejadi dalam kehidupan masayarakat. Pelaksanaan GTA diaharapkan mampu meningkatkan Hak dan Kesehatan Seksual Reproduksi dan menurunkan kekerasan berbasis gender. Sebagai contoh, sebanyak 888 kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam triwulan ketiga pada tahun 2019 menurut Humas Pemerintah Jawa Tengah. Dengan banyaknya kasus tersebut, terlihat urgensi dalam pecegahan kekerasan berbasis gender di Indonesia ini.

 Pendekatan Berbasis HAM

Dalam melaksanakan pelatihan ini, Rutgers menggunakan pendekatan berbasis HAM (Human Rigths-Based Approach). Pendekatan ini dianggap sebagai suatu alat yang berguna untuk menegakkan hak-hak manusia khususnya perempuan dan anak perempuan yang dilanggar ketika kekerasan berbasis gender terjadi. Semua ras, agama, jenis kelamin, etnis, maupun latar beakang budaya mereka sebenarnya memiliki hak yang sama dan itu dibawa semenjak seseorang dilahirkan. Dengan begitu, hak asasi manusia tidak bisa dicabut oleh siapapun karena tidak dapat diambil maupun dilepaskan oleh orang lain.

Lalu apa hubungannya dengan GTA ini? Ini dilihat dari outcome yang diinginkan oleh Rutgers bahwa adanya kesetaraan gender serta seimbang dan terpenuhinya hak-hak seksual dan reproduksi. Agar pendekatan ini dapat berjalan maksimal, semua pemangku kewajiban perlu untuk diberikan pemahaman atau bekal untuk mempertahankan hak tersebut.

Ketimpangan Relasi Kuasa

Kekerasan berbasis gender yang selama ini terjadi tidak lepas dari seseorang yang lebih merasa berkuasa dibandingkan yang lainnya. Menurut Rutgers, ada 3 bentuk kekuasaan yang berbeda. Pertama adalah kekuasaan yang terlihat. Kekuasaan yang terlihat ini mengacu pada seseorang atau institusi yang lebih kuat dan bisa memengaruhi pemikiran atau tindakan orang-orang yang ada di bawahnya. Konotasi yang diberikan pada kekuasaan ini cenderung negatif karena berbentuk seperti dominasi, pelecehan, penindasan pada orang lain, dan pemaksaan.

Bentuk kekuasaan kedua adalah kekuasaan tersembunyi yang sering digunakan oleh suatu pihak yang memiliki hak-hak istimewa untuk mempertahankannya. Kekuasaan ini biasanya digunakan dalam proses politik, tempat kerja, maupun komunitas. Kekuasaan ini dilaksanakan dengan menciptakan berbagai hambatan-hambatan kepada orang lain untuk berpartisipasi semisal tidak diizinkannya seseorang (dikarenakan usia, jenis kelamin, maupun status sosial tertentu) untuk bersuara dalam suatu keadaan yang seharusnya mereka memiliki hak untuk bersuara.

Yang terakhir adalah kekuasan yang tak terlihat. Kekerasan ini merupakan sebuah bentuk kekuasaan yang melekat pada diri seseorang dikarenakan norma, nilai, maupun agama, yang telah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Karena sudah melekat pada orang-orang, kekuasaan ini terbilang sulit untuk diatasi dan telah terjadi secara tidak sadar. Sebagai contoh, pada seorang wanita yang merasa harus patuh pada laki-laki karena ia telah meninternalisasi bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki meskipun secara finansial ia memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan laki-laki tersebut.

Dukung Kami untuk Penyediaan Wadah Sabun dan Wadah Air Bersih

Halo teman-teman yang baik, kali ini Sahabat Kapas berkolaborasi dengan Omah Badran ingin mengajak teman-teman semua untuk menekankan kesadaran pentingnya menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menjaga kesehatan dan kebersihan adalah cara termudah yang bisa kita lakukan untuk menghadapi situasi saat ini.

Kami mengajak teman-teman semua untuk bangkit dari keterpurukan. Bagaimana pun hal baik yang dilakukan oleh banyak orang juga akan membawa dampak baik yang lebih besar. Sebagai makhluk sosial yang peduli terhadap sesama dan mencintai kehidupan itu sendiri, mari kita saling peduli dan mengingatkan yang lain untuk kehidupan yang lebih baik.

Nah, saat ini Omah Badran sedang memproduksi sabun cair mandiri untuk menunjang kesadaran hidup bersih dan sehat ini. Sabun cair ini lalu dibagikan kepada warga sekitar secara cuma-cuma. Untuk itu teman-teman yang baik, kami butuh dukungan kalian untuk membantu menyediakan pengadaan wadah sabun cair dan wadah air bersih untuk diberikan kepada warga. Jika kamu berkenan silakan hubungi kontak di bawah ini. Dan kalau kamu peduli, kamu boleh juga menyebarkan pesan ini. Ayo bantu sesama!

Hubungi mas Dani di nomor 081228930833 (whatsapp).

Seksualitas Tak Boleh Lagi Dianggap Tabu

“Bagaimana sikap yang harus kami ambil atau apa yang harus kami lakukan ketika saat patroli keliling kamar anak, kami mendapati anak yang sedang onani?”

Pertanyaan menarik tersebut dilontarkan oleh salah satu petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam kegiatan refleksi tentang Hak Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi yang diadakan pada awal Agustus lalu. Kegiatan refleksi tersebut diselenggarakan oleh Sahabat Kapas dengan dukungan dari Rutgers WPF Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Sahabat Kapas menggandeng dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Aditya Putra Kurniawan, sebagai narasumber utama.

Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Aditya menjelaskan tentang pandangan masyarakat umum yang mengganggap bahwa seksualitas itu tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Meskipun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, membicarakan seksualitas bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan leluasa. Padahal, Aditya berpendapat edukasi seksual sudah seharusnya dikenalkan kepada anak sedini mungkin (sejak batita).

Seksualitas harus dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dibicarakan agar anak lebih terbuka. Orang tua dapat memulai edukasi seksual dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, mengenalkan anak dengan nama organ kelaminnya. Seperti vagina milik anak perempuan dan penis milik anak laki-laki. Tidak boleh orang tua mengganti istilah penis dengan burung karena akan membingungkan anak.

Suasana pelatihan Sahabat Kapas di LPKA Kutoarjo

Peran Petugas dalam Edukasi Seksual Anak-Anak di LPKA

Petugas LPKA Klas I Kutoarjo dalam hal ini juga memiliki peran selayaknya orang tua dalam edukasi seksual anak. Anak-anak yang tinggal di LPKA Kutoarjo berhak mendapatkan pendidikan seksualitas tersebut. Dengan edukasi seksual dan reproduksi yang tepat, anak-anak tersebut dapat memperoleh informasi yang terpercaya dan lebih terbuka terhadap seksualitasnya. Petugas memiliki peran yang sangat besar untuk menyampaikan edukasi seksual kepada anak-anak (remaja) di LPKA supaya mereka bijak dalam berhubungan seksual maupun melakukan aktivitas reproduksi.

Kehidupan homogen di LPKA dapat membuat hubungan seksual-reproduksi menjadi sangat berisiko. Hasrat untuk menyalurkan syahwat yang tidak bisa dikontrol akan menimbulkan beberapa masalah lain. Misalnya, kemungkinan praktik sodomi antarremaja laki-laki karena mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan keinginan dan kebutuhan dengan benar dan tepat. Padahal, risiko penyakit akan timbul jika salah satu ada yang mengalami infeksi.

Kembali ke pertanyaan awal, lalu apa yang harus dilakukan ketika mendapati seorang anak tengah melakukan aktivitas seksualnya? Menjawab pertanyaan ini, Aditya menerangkan ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, jika melihat hal itu terjadi, jangan dihentikan. Biarkan sampai anak selesai dengan aktivitasnya. Di hari berikutnya, petugas bisa mengajak anak berbicara secara langsung dan melakukan pendekatan untuk eksplorasi lebih lanjut. Ketika melakukan hal ini, petugas harus memastikan anak dalam kondisi yang aman dan nyaman. Petugas juga harus mendapatkan kepercayaan anak, agar ia lebih bebas dan terbuka untuk bercerita.

Kedua, pada saat pembimbingan berlangsung, petugas sebaiknya mengeksplorasi sejauh mana dorongan seksual itu muncul, misalnya bagaimana perasaan anak mengenai aktivitas seksual. Petugas harus menunjukkan sikap bahwa ia memahami kondisi dan perasaan anak tersebut. Dengan menunjukkan sikap memahami, petugas akan lebih leluasa untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas seksual dan dampaknya. Misalnya, petugas dapat menyampaikan pada anak dampak dari onani/masturbasi yang berlebihan. Ketika dorongan seksual muncul, petugas juga dapat membantu anak mencari alternatif pengalih kegiatan. Terakhir, petugas dapat menghubungi psikolog agar anak bisa memperoleh perawatan dan bimbingan lebih lanjut.

 

Dampak Minimnya Edukasi Seksual

50% remaja yang didampingi oleh Sahabat Kapas adalah mereka yang melakukan kekerasan seksual ataupun pelecehan seksual. Yang menarik adalah meskipun beberapa anak yang masuk ke LPKA bukan karena kasus seksual, sebagian besar mereka mengaku telah aktif melakukan kegiatan seksual maupun reproduksi. Perilaku seksual berisiko yang dilakukan oleh remaja sebelum 18 tahun ini justru membuat mereka tinggal dalam dinginnya dinding bui. Kurangnya edukasi tentang seksualitas reproduksi menjadikan anak mencari tahu sendiri tentang hal tersebut di internet. Karena hampir seluruh anak tidak mau menanyakan langsung pada orang dewasa yang ia kenal. Akhirnya, mereka lari ke internet, namun hasil pencarian justru menampilkan informasi, gambar, atau video tentang pornografi.

Seksualitas dan reproduksi merupakan pengetahuan yang berhak diakses oleh seluruh manusia, tak terkecuali anak. Membicarakannya pun bukan sesuatu yang tabu, jika kita menempatkannya sebagai informasi wajib untuk disampaikan agar orang tak lagi menganggapnya sebagai hal yang saru (jawa: memalukan). Sedangkan posisi laki-laki yang seringnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Hal tersebut membuat remaja laki-laki membutuhkan intervensi lebih tentang edukasi seksualitas reproduksi yang positif.

Belajar Social Enterprise : Peningkatan Kapasitas Untuk Jadi Wirausaha Sosial

Kegiatan yang akrab disebut dengan usaha sosial ini adalah sebuah usaha atau bisnis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah sosial dimana laba yang diperoleh semua atau mayoritas diinvestasikan untuk menjalankan misi- misi sosial tersebut. Nah Sahabat Kapas juga punya usaha sosial loh!

Melalui progam Gerobak Kopi Onjel, Sahabat Kapas menjalankan mengkolaborasikan antara skema kewirausahaan muda dan usaha reintegrasi anak pasca penjara. Keterlibatan anak dampingan Sahabat Kapas dalam melakukan usaha sosial ini, mendorong pendamping untuk lebih keras lagi dalam meningkatkan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha sosial meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Pada 17-20 Juni 2019 lalu, salah satu tim dari Sahabat Kapas yakni Kak Yukarisa berkesempatan mengikuti kegiatan training Active Citizen for Social Enterprise (ACSE) yang diadakan oleh British Council yang bertempat di Creative Hub Fisipol UGM. Bertemu dengan pemuda pemudi lain yang sedang maupun akan menggerakkan kegiatan usaha sosial, kak Risa bersama-sama belajar tentang bagaimana menjadi wirausahawan sosial. Dalam kegiatan tersebut banyak hal yang dipelajari antara lain pentingnya menjalankan dan mengelola usaha sosial dengan mengedepankan Unique Selling Point, dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Dan yang paling penting adalah, apa visi utama yang menjadikan usaha sosial ini harus dijalankan! So inspiring! Semoga ONJEL sebagai usaha sosial Kapas bisa semakin berkembang dan bermanfaat ya!

Terima kasih untuk @britishcouncil @chubfisipol @tamboid

Picture taken by: @semenitberdua

Penghargaan Menteri Hukum dan HAM untuk Sahabat Kapas

Pada 25 Maret 2019 lalu, Sahabat Kapas diundang untuk menerima penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI kepada mitra LPKA sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan partisipasi Kapas dalam program pemenuhan hak Anak di LPKA, khususnya LPKA Kutoarjo.

Sahabat Kapas mulai berkegiatan di LPKA Kutoarjo sejak akhir 2014 dan hingga sekarang rutin melakukan pendampingan setiap dua minggu sekali. Dengan menggunakan pendekatan psikososial, Sahabat Kapas memberikan layanan konseling, pengembangan diri, dan pelatihan ketrampilan yang bernilai ekonomis untuk anak- anak. Bekerjasama dengan petugas LPKA Kutoarjo, Sahabat Kapas juga mengembangkan instrumen yang bisa digunakan untuk memudahkan asesmen kebutuhan dan perubahan anak.

Bagi Direktur Sahabat Kapas, Dian Sasmita, penghargaan ini adalah bentuk apresiasi yang  paling tepat diberikan kepada semua tim Sahabat Kapas. “Ini semua adalah hasil dedikasi, kerja keras dan kebahagiaan individu- individu di Kapas yang mendampingi remaja- remaja di LPKA dengan penuh semangat dan cinta.”

Selain Sahabat Kapas, Menteri Hukum dan HAM RI juga memberikan penghargaan kepada lembaga perwakilan pemerintah dan organisasi masyarakat yang turut serta dalam upaya besar pemenuhan hak anak di LPKA- LPKA di Indonesia. Semoga dengan adanya penghargaan ini, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan anak di Indonesia semakin solid ke depannya.

#PawonOnjel dan #GerobakOnjel Siap Diluncurkan

 

Sahabat Kapas siap dengan gebrakan baru. Kapas kini memiliki unit usaha anyar bernama #GerobakOnjel dan #PawonOnjel. #GerobakOnjel Kapas mengadaptasi model bisnis kopi keliling dengan memanfaatkan gerobak.  Bermitra dengan Kayuhan Amal (Kamal), #GerobakOnjel siap berkeliling dan menyapa para penikmat kopi di berbagai acara di Solo dan sekitarnya. Dalam waktu dekat, kami juga akan secara resmi meluncurkan #GerobakOnjel di kantin Kampus ISI Surakarta.

Selain gerobak kopi, kami kini juga tengah berjibaku merintis #PawonOnjel. Unit usaha ini adalah dapur produksi makanan dan minuman yang dipasarkan secara online maupun secara langsung. Untuk sementara ini, #PawonOnjel meluncurkan produk berupa sirop jahe. Untuk sirop jahe, kami jual dengan harga Rp25.000,- untuk kemasan botol kaca (300 ml) dan Rp35.000,- untuk kemasan jeriken kecil (500 ml).

Semua unit usaha ini melibatkan remaja-remaja pascalapas dan/atau remaja putus sekolah. Mereka terlibat sebagai operator gerobak dan dapur. Uniknya, anak-anak ini tidak hanya sekadar menjalankan usaha. Mereka yang terlibat juga mendapatkan pendampingan psikososial untuk mendukung kepercayaan dirinya dan resiliensi. Selain itu, usaha ini nantinya akan menempatkan remaja pascalapas sebagai mitra. Mereka dapat menjalankan usaha secara mandiri (tanpa dampingan Sahabat Kapas) ketika sudah siap secara mental dan kemampuan wirausaha.

Keuntungan penjualan produk #GerobakOnjel dan #PawonOnjel digunakan sebesar-besarnya untuk memberi kesempatan kedua bagi remaja-remaja hebat pascalapas. Mari nikmati bersama kehangatan segelas kopi atau sirop jahe, sembari memberi peluk hangat dan senyum untuk anak-anak kita.

Untuk informasi pemesanan silakan hubungi Dian (08562810170).

 

Pendampingan Psikososial & Pelatihan Asertif Bagi Anak Korban Kekerasan Seksual

Rombongan Sahabat Kapas beserta anggota Dinas PPKB dan P3A Kabupaten Wonogiri tiba pukul 09.30 WIB. Hari itu (5/11), kami mengunjungi salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri untuk memberikan pendampingan psikososial dan pelatihan asertif bagi anak-anak korban kekerasan seksual.  Sesuai informasi yang kami dapat dari Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, anak-anak yang akan kami temui mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru olahraga mereka sendiri. Anak-anak yang akan mengikuti pendampingan bersama kami hari itu berjumlah 22 orang anak perempuan yang berasal dari dua sekolah berbeda.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh para guru dari perwakilan sekolah. Dari penuturan salah seorang guru, kami mendapat informasi bahwa pihak sekolah merasa cukup kesulitan ketika harus memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak. Guru juga merasa tidak memiliki banyak alternatif kegiatan maupun sarana-prasarana yang memadai untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari peristiwa sedih yang menimpa mereka. Salah seorang guru mengungkapkan bahwa sekolah tidak memiliki buku-buku yang cukup memadai. Oleh karenanya, sekolah sangat berterima kasih apabila ada pihak-pihak yang dapat memberikan buku bacaan sebagai sarana pengalihan positif anak-anak dari peristiwa yang menimpa mereka.

Pihak sekolah berharap adanya kegiatan pendampingan dan pelatihan asertif yang dilakukan oleh Dinas PPKB dan P3A bersama Sahabat Kapas, bisa sedikit mengurangi beban psikososial yang ditanggung oleh anak-anak. Pihak sekolah juga ingin agar ke depannya terdapat panduan khusus yang ditujukan bagi sekolah-sekolah untuk penanganan kasus kekerasan sekolah yang dialami oleh peserta didiknya. Dengan adanya panduan tersebut, guru dapat menindaklanjuti program pendampingan psikososial secara mandiri dan bisa memberikan perhatian khusus yang dibutuhkan oleh anak-anak.

 

Berani Mengatakan “TIDAK”

Kami memulai kegiatan hari itu dengan berdoa dan bernyanyi “Nyanyian Jari”

Anak-anak yang didampingi sekitar empat orang guru menyambut kedatangan kami di masjid sekolah. Mereka tampak sedikit malu-malu.  Setelah pembukaan singkat dari perwakilan Dinas PPKB dan P3A Wonogiri, Ibu Rodhiyati, acara dilanjutkan dengan perkenalan dan pemaparan ringkas mengenai kegiatan hari itu. Anak-anak menyimak dengan tertib penjelasan yang diberikan dan terlihat antusias untuk mengikuti kegiatan.

Untuk  membangun suasana ceria, kami memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak menyanyikan dan memperagakan “Nyanyian Jari”. Setelah kami rasa anak-anak bisa menerima kehadiran kami, kegiatan kami lanjutkan dengan bermain peran (role play).Kami membagi anak-anak dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri atas 5-6 anak yang akan didampingi oleh satu orang relawan Kapas. Kami sengaja membuat kegiatan berkelompok untuk melatih kerja sama antaranak dan membangun kedekatan satu sama lain.

Setiap kelompok memiliki nama-nama tersendiri, kami memutuskan untuk memberi nama kelompok dengan kelompok Perahu Biru, Perahu Ungu, Perahu Hijau, dan Perahu Merah. Masing-masing perahu nantinya akan mendapatkan tugas memainkan peran dengan tema berbeda. Perahu Biru mendapat tema mencontek; Perahu Hijau memperoleh tema pemerasan di lingkungan sekolah; Perahu Ungu bermain peran dengan tema pemalakan dalam bentuk makanan di sekolah; dan Perahu Merah bermain peran bertema tindakan curang. Semua kelompok diberi waktu untuk mendiskusikan peran yang akan dimainkan. Masing-masing kelompok nantinya mendapat waktu sekitar 10 menit untuk menampilkan dramatisasi peran yang telah direncanakan.

Kegiatan bermain peran ini menjadi salah satu media melatih asertivitas anak. Dengan pelatihan asertif ini, anak diharapkan memiliki kemampuan mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga serta menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Dengan bermain peran, anak ditempatkan pada sebuah kondisi di mana mereka harus berani mengomunikasikan keinginannya dan berani mengatakan TIDAK atas hal-hal yang tidak diinginkannya. Terutama, anak harus berani menolak perlakuan atau hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Dari peran yang dimainkan oleh Perahu Biru, anak-anak kami latih untuk berani menolak perbuatan mencontek dan memilih tindakan jujur. Anak-anak menyadari bahwa perbuatan mencontek adalah tindakan yang tidak baik. Oleh karenanya, mereka harus berani menolak perbuatan yang tidak baik tersebut. Sebaliknya, mereka harus membiasakan diri berbuat jujur. Sikap berani menolak terhadap tindakan buruk ini kami harapkan tidak hanya digunakan pada situasi mencontek, tapi pada situasi-kondisi lainnya yang membutuhkan keberanian anak untuk menolak. Seperti peran yang dimainkan Perahu Biru, kelompok Perahu Merah juga memainkan peran yang menuntut anak-anak untuk berbuat jujur. Selain itu, anak bisa belajar saling memaafkan pada teman yang berbuat curang.

Di lain sisi, peran yang dimainkan oleh kelompok Perahu Hijau dan Perahu Ungu menitikberatkan pada keberanian untuk melawan tindakan perundungan—yang mungkin dialami di sekolah. Perundungan dapat membuat anak-anak merasa rendah diri dan tertekan. Karenanya, anak-anak harus menghindari perbuatan merundung. Di sisi lain, ketika mereka menjadi objek perundungan, mereka harus berani untuk melawan. Anak-anak perlu diajarkan untuk berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang perundung meminta mereka melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Anak perlu diberi tahu para perundung cenderung memilih anak-anak yang tidak mau membela diri. Jika anak-anak terbiasa melakukan apa yang dikatakan seorang perundung, mereka mungkin akan terus-menerus ditindas.

 

Mencintai Diri Sendiri

Setelah selesai bermain peran dan menyelami pesan moral dari peran tersebut, kami mengajak anak-anak untuk menggambar sosok diri mereka sendiri pada selembar kertas. Kegiatan ini termasuk dalam terapi seni, yakni penggunaan teknik-teknik kreatif seperti menggambar, melukis, atau mewarnai, untuk membantu anak mengekspresikan diri mereka secara artistik dan memeriksa kondisi psikologis serta emosional dalam seni mereka. Kami minta anak untuk menggambar sesuai keinginan mereka, tanpa takut untuk dinilai bahwa gambar mereka jelek. Mereka bebas mengeskpresikan gambaran diri mereka pada kertas tersebut. Kegiatan ini kami lakukan agar anak bisa lebih mengenal dan mencintai diri mereka sendiri.

Beberapa hasil gambar diri dari anak-anak yang mengikuti pendampingan psikososial

Terapi seni dengan menggambar sejatinya adalah bentuk komunikasi nonverbal. Untuk anak-anak yang mungkin tidak mampu mengartikulasikan pikiran, emosi, persepinya dengan verbal, menggambar adalah cara terbaik untuk mengomunikasikan perasaannya. Bagi anak-anak yang pernah mengalami pelecehan, menggambar adalah salah satu cara untuk “mengatakan tanpa berbicara”; ketika mereka tidak dapat atau takut untuk berbicara tentang peristiwa atau perasaan tertentu.

Selain menggambar, anak-anak juga kami minta untuk menceritakan tentang diri mereka pada kelompoknya masing-masing. Antaranak kami minta bertanya mengenai pelajaran yang disukai, keterampilan yang dimiliki, atau hobi yang biasa mereka lakukan. Hal ini untuk membangun kepercayaan diri anak atas potensinya dan menumbuhkan persepsi bahwa mereka dapat diterima oleh lingkungan dengan potensi yang dimiliki. Anak-anak perlu dilatih untuk mengenali diri mereka sendiri sehingga mereka dapat tumbuh dengan rasa percaya diri.

Rangkaian kegiatan hari itu kami akhiri dengan menari bersama diiringi lagu “Baby Shark” versi Jawa (“Culoboyo”) yang dipandu oleh semua relawan Kapas. Sekira pukul 12.40 WIB, semua kegiatan selesai dilakukan dan ditutup oleh Ibu Rodhiyati. Dengan bersemangat, anak-anak mengaku senang dengan kegiatan yang diberikan dan ingin kembali bermain bersama para relawan di kemudian hari.

Tidak hanya anak-anak yang merasa senang hari itu, kami sebagai relawan juga sangat senang bisa membuat mereka ceria dan tertawa lepas. Kami juga merasa gembira anak-anak dapat menerima kehadiran kami dengan senang hati. Kami harap apa yang kami lakukan hari itu bisa sedikit membantu meredam kesedihan, membantu mereka menatap hari-hari ke depan dengan lebih percaya diri.

 

Ditulis oleh M. Rusydi Shabri

Relawan Kapas/Mahasiswa Psikologi UMS 2015

Betapa Anehnya Dunia Orang Dewasa

Judul Film            : The Little Prince  Musik            : Hans Zimmer
Genre                   : Animation, Fantasy Produksi        : On Entertaiment, Onyx Films, Orange Studio
Sutradara            : Mark Osborne MPAA             : BO (Bimbingan Orang tua)
Skenario              : Irena Brignull, Bob Persichetti Durasi             : 106 Menit

 

Film The Little Prince merupakan adaptasi dari novela Le Petit Prince karya seorang pilot asal Perancis, Antoine de Saint-Exupéry. Exupéry menulis dan mengilustrasikan manuskrip The Little Prince selama musim panas dan musim gugur tahun 1942 dalam pengasingannya di Amerika. Dalam membuat karakter Little Prince, Exupéry terinspirasi dari kisahnya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Hasil karyanya tersebut telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 265 bahasa di seluruh dunia dan terpilih menjadi buku terbaik abad ke-20 di Perancis.

Adaptasi The Little Prince garapan Mark Osborne memiliki sedikit plot berbeda dengan apa yang ada di buku. Namun, perbedaan tersebut tidak meninggalkan garis besar cerita Exupéry. Bahkan, ilustrasi dan pengisahannya dikemas dengan baik dalam film ini.

Film ini diawali oleh narator, pilot bernama The Aviator, yang menceritakan kisah masa kecilnya. Kala itu, ia tengah menggambar seekor ular boa yang memakan seekor gajah. Saat menunjukkan hasil karyanya itu kepada orang dewasa, ia bertanya apakah mereka takut dengan gambar ular yang dia buat. Namun, jawaban yang diterimanya membuatnya kecewa. Para orang dewasa yang melihat gambar tersebut malah tertawa dan menganggap bahwa gambar yang ia buat adalah sebuah topi.

The Aviator tak menyerah begitu saja. Ia membuat gambar lain yang memperlihatkan seekor gajah di dalam perut ular secara lebih jelas. Setelah ditunjukkan ke orang dewasa, mereka malah menyuruhnya untuk berhenti menggambar dan fokus belajar ilmu lain yang dianggap lebih baik untuk masa depannya. Pada satu titik tertentu, Aviator berhenti untuk menggambar dan menaruh perhatiannya ke hal lain. Ia pun mulai memikirkan dan menaruh minatnya pada pesawat terbang. Bagian pembuka ini secara jelas berusaha menyampaikan topik penting dalam keseluruhan cerita, yaitu betapa tidak dapat dimengertinya orang dewasa.

“Apa yang paling penting bukan apa yang terlihat oleh mata, tapi apa yang dapat dirasakan oleh hati.”

Dibuka dengan plot yang hampir sama dengan cerita di novela, kisah Little Prince mulai sedikit berbeda ketika pada bagian berikutnya muncul seorang gadis kecil yang tengah disibukkan dengan persiapan ujian masuk sebuah sekolah bergengsi, Werth Academy. Gadis kecil itu memiliki kehidupan yang serba disiplin dan sangat terencana. Ibu gadis kecil itu bahkan membuat jadwal hal-hal apa saja yang harus dilakukan gadis kecil setiap harinya. Dalam film ini, kisah sang gadis kecil merepresentasikan kehidupan masyarakat sekarang, di mana orang tua merasa memiliki hak penuh untuk mengatur masa depan anak mereka. Akibatnya, anak tidak diberi ruang atau kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri. Bahkan, akibat orang tua yang terlalu mengatur kehidupan anak, mereka tak bebas menikmati masa kanak–kanaknya untuk bermain.

Kehidupan teratur gadis kecil itu perlahan-lahan berubah. Ia bertemu dengan tetangga sebelahnya yang ternyata adalah seorang kakek tua yang tidak lain adalah sang pilot. Awalnya, gadis kecil itu tidak menyukai sang kakek tua yang dianggapnya sangat aneh. Lambat laun, gadis kecil dan sang kakek tua pun berteman. Kakek tua pun menceritakan kisah menakjubkan tentang pangeran cilik (Little Prince) kepada gadis kecil. Ia mendongengkan kisah pertemuan sang pilot dan pangeran cilik, dari mana mereka berasal, hingga kisah perjalanan pangeran cilik. Dalam perjalanannya, pangeran cilik bertemu dengan seorang raja “penguasa” alam semesta, seorang gila hormat yang senang apabila dipuji, serta seorang pebisnis yang selalu sibuk menghitung bintang. Masing-masing pertemuan tersebut menggambarkan absurditas orang dewasa yang umum kita jumpai sehari-hari, mulai dari sindrom kekuasaan dan kepemilikan. Lagi-lagi, kita akan disuguhi gambaran betapa anehnya dunia orang dewasa.

Sang sutradara, Mark Osborne, bersama penulis naskah,  Irena Brignull dan Bob Persichetti,  memang tidak mengadaptasi persis kisah Little Prince seperti yang tertera di novela karya Exupéry. Namun, mereka jelas menyisipkan pesan penting dengan menambahkan sudut pandang kekinian dengan eksekusi yang baik tanpa melupakan kisah aslinya. Kelebihan lain dalam film ini adalah penyampaian pesan yang mendalam untuk terus berusaha dalam meraih mimpi yang kita inginkan. Selain itu, film ini juga mengajak kita untuk melihat sesuatu sebagaimana seorang anak kecil melihat dunia dengan polos, indah, dan apa adanya. Karena dengan begitulah kita justru akan jadi dekat dengan kedewasaan yang sesungguhnya.

 

Ditulis oleh Ajeng Jati Kusuma

(Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta/Relawan Magang Kapas)